Pemkab Mimika Kaji Model Pengelolaan Air Bersih
PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda)  mempresentasikan pengelolaan air bersih, foto: Martha/Papua60detik
PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda) mempresentasikan pengelolaan air bersih, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda) mempresentasikan tata kelola air bersih ke Pemerintah Kabupaten Mimika, Selasa (24/2/2026).

Sebelumnya, diinisiasi oleh UNICEF dan Yayasan Gapai Harapan Papua, Pemkab Mimika melakukan study banding di PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani pada awal Januari kemarin.

Kepala Dinas PUPR, Inosensius Yoga Pribadi mengatakan pertemuan ini untuk menentukan model perusahaan yang akan mengelola air perkotaan. Pilihannya, menggunakan perusahaan daerah yang sudah terbentuk (PT MAS) atau mmbentuk perusahaan baru. 

"Kalau kita di Mimika, karena itu penyertaan modal oleh satu kepemilikan dalam arti Pemda Mimika, berarti yang cocok menurut aturan adalah Perumda atau Perusahaan Air Minum Daerah, sesuai hasil diskusi kami waktu di Jayapura," ujar Yoga saat diwawancai. 

Ia menegaskan, pengelolaan secara profesional harus melalui suatu badan usaha, sehingga pengembangannya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Perusahaan akan memiliki dorongan untuk terus meningkatkan kapasitas, memperluas layanan, dan memperbaiki kualitas pengelolaan.

Sementara itu, Pemerintah Daerah tidak diperkenankan menjalankan kegiatan yang bersifat bisnis. Peran pemerintah pada dasarnya adalah pelayanan publik. Padahal, dalam mengelola air bersih tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga harus menangihkan ke masyarakat. 

"Jadi sebenarnya kita sudah berpikir, ini memang tidak bisa dilakukan Dinas PU sendiri karena pengututan diinas itu tidak boleh dilakukan. Pungutan itu harus dilakukan lembaga yang profesional," tambahnya. 

Hingga tahun 2025, sambungan rumah yang terbangun di Kabupaten Mimika sudaj 14676. Sementara yang sudah teraliri air bersih adalah sekitar 9000. Yoga mengakui aliran air belum berjalan optimal dikarenakan masih banyak permasalahan di lapangan. 

"Belum teraliri secara optimal karena terdapat beberapa titik pipa yang putus atau ada alat yang dicuri. Tugas kita tetap melakukan penanganan-penanganan. Ke depan lembaga yang mengelola ini, dia harus mempunyai perhitungan yang baik supaya bisa mengelola perusahaannya," pungkasnya. (Martha)