Politik di Timika: Ramai di Baliho Sepi di Gagasan
Papua60detik - Sejak kran kampanye politik dibuka 28 November lalu, wajah Kota Timika berubah. Baliho dan spanduk Capres-Cawapres, Caleg dan Parpol terpampang nyaris di setiap simpang jalan.
Baliho dan spanduk itu isinya gambar kaku si calon. Kadang senyum, kadang tidak. Tak ada yang ditawarkan selain slogan dan visi atau misi yang itu-itu saja.
Baca Juga: Natalis Tabuni Nakhodai Nasdem Papua Tengah
Fenomena lima tahunan itu dicermati aktivis perempuan, Adolfina Kuum. Bagi Adolfina, seorang politisi bagaimana pun harus teruji. Politik sejatinya adalah ranah publik. Kelayakan seorang politisi mestilah diuji oleh publik, oleh rakyat. Dan baliho atau spanduk mustahil jadi alat uji.
"Seharusnya diuji yah, kemampuannya berdebat, diskusi. Supaya rakyat lihat, dia bicara apa? Gagasannya apa? Supaya teruji. Saya tidak tahu di Papua lain, tapi di Timika begitu dari Pemilu ke Pemilu," kata Adolfina, Selasa (9/1/2024).
Apalagi seorang Caleg yang jika terpilih bakal mewakili suara rakyat. Seorang wakil rakyat menurutnya mesti punya gagasan, teruji dalam percaturan pendapat dan mampu membela gagasannya.
Adolfina tiba pada kesimpulan, politik di Timika miskin dan sepi gagasan. Mereka yang akan duduk di kursi empuk kekuasaan tak pernah diuji gagasannya. Politisi hanya tampil di baliho dan spanduk yang tak bisa didebat.
"Tidak ada visi misi yang menarik, karena tidak diadu. Seharusnya itu teruji. Saya maju ini karena saya peduli dengan apa? Persoalan di Timika ini tidak sedikit, mulai dari kekerasan, hak-hak dasar rakyat sampai masalah lingkungan hidup misalnya," ungkap Adolfina.
Dengan sistem dan model politik seperti saat ini, ia menduga yang bakal marak terjadi adalah politik uang. Si calon tak perlu bersusah-susah mendatangi rakyat, dialog dan menawarkan gagasan. Uang diyakini bisa bikin beres segalanya.
Pada politik uang, rakyat pun disorotnya. Politik uang bisa merajalela, karena rakyat pun setuju menjual suaranya. Ujung-ujungnya nanti, rakyat mengeluhkan juga kinerja eksekutif dan legislatif.
"Di Timika ini semua orang bisa jadi apa saja, termasuk jadi anggota DPRD kalau punya uang. Ini pengalaman," ujar Adolfina.
Soal uji gagasan, ia menyarankan setiap Parpol membuat semacam debat publik yang menghadirkan Caleg-Calegnya. Di situ, biarkan rakyat mendebat dan menguji gagasan dan perspektif si calon.
"Kalau masih dengan model politik seperti saat ini, Timika tidak ada perubahan. Itulah yang terjadi," katanya. (Burhan)