PT Freeport Klaim Tailingnya Tak Mengandung Bahan Berbahaya
Papau60detik - Sudah jadi anggapan umum, tailing atau pasir sisa tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) mengandung bahan berbahaya
Tapi Direktur PTFI, Claus Wamafma membantah anggapan itu. Ia mengklaim, tailing yang mereka hasilkan dikategorikan bahan berbahaya dan beracun (B3) bukan karena kandungan tetapi volumenya.
"Di processing kita itu tidak ada menggunakan bahan-bahan, misalnya mercury. Dan kami konsisten dengan itu selama puluhan tahun. Jadi karena dalam jumlah yang besar, inilah yang dikategorikan B3," katanya di Rimba Papua Hotel, Jumat (12/02/2021).
Ia menegaskan, operasi tambang PTFI sudah sesuai standar, salah satunya analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Pengelolaan tailing menurutnya menjadi bagian dari studi kelayakan sebelum PTFI beroperasi. Pilihan menggunakan sungai di dataran rendah untuk mengendapkan tailing, kata Claus, telah melalui kajian dari banyak aspek.
"Dan ini kita kelola secara konsisten, kontinyu selama puluhan tahun. Misalnya, kita itu rutin melakukan sampling untuk mengukur semua kandungan geofisik, kimiawi, lingkungan hidup di sana. Dan ini kita laporkan secara reguler kepada pemerintah sebagai regulator," katanya.
Kabar baiknya, tailing PTFI saat ini sudah dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur setelah keluarnya surat kesepakatan bersama (SKB) tiga kementerian; Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Claus, itu merupakan hasil perjuangan panjang dan serangkaian penelitian untuk menyakinkan semua pihak bahwa tailing PTFI aman digunakan untuk pembangunan infrastruktur.
"Kami bersyukur, sekarang ini tailing sudah digunakan untuk kepentingan umum dan menjadi bagian untuk mempercepat akselerasi akses jalan," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo mengatakan, permintaan tailing untuk pembangunan infrastruktur sepenuhnya di bawah kendali PTFI. Hal ini bertujuan, agar tidak ada konflik ke depan, apalagi tailing ini sudah bisa dimanfaatkan untuk umum.
"Kalau ini tidak dikelola baik, maka akan ada kapling-kapling dan tailing itu didulang lagi. Dan itu akan terjadi konflik ke depannya. Karenanya, masalah tailing di bawah kendali Freeport. Kami hanya memberikan rekomendasi bahwa tailing bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur," pungkasnya. (Fachruddin Aji)