Ruang Bicara: Salah Satu Cara Cegah Perilaku Ekstrem Anak
Papua60detik - Anak usia di bawah umur bisa melakukan tindakan ekstrem terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Bagaimana menanganinya?
Manajer Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak Wahana Visi Indonesia, Satrio Rahargo mengatakan anak memiliki ketergantungan besar pada lingkungan sekitarnya, terutama orang tua dan keluarga. Pola asuh di keluarga bisa membentuk perilaku seorang anak.
Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga perhatian, kasih sayang, serta ruang untuk menyampaikan perasaan dan pendapat.
"Misalnya anak mengalami situasi tertekan, dia bisa bercerita sehingga ketika memiliki pikiran negatif tersebut, dia bisa langsung berkonsultasi kepada orang-orang yang dia percaya lalu mengurungkan niatnya," ujar Satrio Rahargo saat diwawancarai di Timika beberapa waktu lalu.
Menurutnya, faktor komunikasi menjadi kunci utama. Di banyak kejadian, anak merasa tidak didengar karena orang tua terlalu sibuk. Bahkan, orang dewasa kadang menganggap persoalan anak sebaga hal sepele. Padahal, ketika tidak didengar, anak bisa berisiko mengalami tekanan psikologis berkepanjangan.
Satrio mencontohkan, bagi orang dewasa, kebutuhan buku, alat tulis, maupun perlengkapan sekolah terlihat sederhana. Sementara bagi anak, itu berkaitan dengan rasa percaya diri menjalin pertemanan di lingkungan.
"Padahal sebenarnya buku untuk anak itu sesuatu yang bisa jadi soal relasi dia dengan teman-temannya. Ketika dia datang ke sekolah dengan tidak membawanya, itu membuat diskriminasi dalam dirinya. Dia akan merasa berbeda dengan teman-temannya. Bahkan walaupun mungkin guru dan teman-temannya tidak menyampaikan itu," terangnya.
Selain keluarga, masyarakat dan sekolah juga memiliki peran penting. Misalnya sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi harus menyediakan guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai pendampingan emosional anak.
Pemerintah juga perlu memastikan akses jaminan sosial dan layanan pendukung benar-benar menjangkau anak-anak yang membutuhkan. Seperti jaminan pendidikan dan layanan kesehatan harus dipastikan tepat sasaran, terutama bagi anak dari keluarga kurang mampu. Penyediaan layanan psikologis juga dinilai penting.
Ia menegaskan, tindakan ekstrem pada anak di bawah umur bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor penyebabnya, seperti tekanan mental, kurangnya komunikasi, kondisi sosial-ekonomi, hingga situasi lingkungan yang tidak mendukung.
"Peran orang tua sangatlah pentingnya. Peran masyarakat juga seperti guru, tokoh agama, lingkungan sekitarnya, bagaimana menyediakan ruang untuk anak berbicara, menyampaikan pendapat, dan juga melihat anak sebagai hal yang penting," pungkasnya. (Martha)