STAK Nabire Wisuda 220 Mahasiswa
Papua60detik - Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Nabire, Papua Tengah, mewisuda 220 mahasiswa angkatan XIII, Jumat (28/11/2025) siang.
Keluarga dan tamu hadir memberikan dukungan dan doa, sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk membangun generasi rohani yang kuat dan berintegritas.
Baca Juga: SMA Negeri Meepago Hadapi Krisis Air Bersih
Rektor STAK Nabire, Pdt Yance Nawipa menegaskan, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan panggilan tanggung jawab bagi setiap lulusan untuk kembali mengabdi kepada gereja, masyarakat, dan Tanah Papua.
"Dunia sedang menunggu kualitas karakter, spiritualitas, dan kompetensi kalian,” kata Rektor.
Ia juga mengapresiasi para dosen, tenaga kependidikan, dan orang tua yang telah menjadi pilar utama dalam keberhasilan para wisudawan selama menempuh pendidikan.
Ia menyatakan, wisuda XIII STAK Nabire bukan hanya selebrasi pencapaian akademik, tetapi juga kelahiran generasi baru pemimpin Kristen yang siap melayani dengan integritas. Para lulusan diharapkan membawa nilai-nilai kejujuran, pelayanan, dan pengabdian dalam setiap langkah mereka.
Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua, Pdt Yahya Lagowan pada kesempatan itu secara resmi menerima wisudawan sebagai pekerja gereja yang akan kembali melayani di jemaat-jemaat KINGMI di seluruh Tanah Papua.
Ia menegaskan, seluruh lulusan wajib kembali ke klasis masing-masing untuk melapor kepada Ketua Klasis sebagai bentuk kesiapan ditempatkan dalam pelayanan.
Ia mengingatkan seluruh lulusan tentang tantangan pelayanan yang panjang dan berat. Ia meminta para wisudawan tetap rendah hati, menjunjung karakter, etika, dan jati diri budaya Papua dalam setiap karya pelayanan.
“Bangga hari ini boleh. Tetapi di ladang Tuhan banyak masalah. Jadilah pembawa damai dan terang Kristus. Ingat sebagai anak adat, anak budaya. Datang melayani dengan rendah hati,” pesannya.
Staf Ahli III Gubernur Papua Tengah Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum, Marthen Ukago menekankan pentingnya peran gereja di tengah berbagai persoalan kompleks yang sedang dihadapi Tanah Papua.
“Papua adalah tanah yang indah, kaya budaya dan sumber daya alam, namun juga menyimpan banyak luka sejarah, luka sosial, dan luka batin yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Ukago.
Ukago meminta para lulusan memahami bahwa pelayanan bukan hanya soal kegiatan gerejawi, tetapi menyentuh pemulihan kehidupan manusia secara menyeluruh.
Ia menyoroti berbagai realitas yang dihadapi masyarakat Papua: pertama, banyak anak muda yang jatuh bukan karena keinginannya, tetapi karena kurangnya pembimbing. Kedua, perempuan sering mengalami luka karena minimnya perlindungan. Ketiga, anak-anak Papua tumbuh dengan perasaan dipandang rendah. Keempat, kesulitan keluarga beradaptasi dengan perubahan zaman. Kelima, pemuda kehilangan arah dan kehilangan tempat pulang.
Menurutnya, gereja perlu hadir dengan pelayanan yang memulihkan batin, menyembuhkan trauma, memperkuat karakter, serta memberikan konseling dan pendampingan keluarga maupun komunitas.
Ia mengajak, gereja dan para lulusan menjadi suara bagi mereka yang belum mampu menyampaikan kisah hidupnya.
Anak-anak yang tidak mendapat akses pendidikan, perempuan korban kekerasan, pemuda yang berjuang melawan kecanduan, dan keluarga yang tertekan secara ekonomi, merekalah yang harus diperjuangkan,” tutupnya. (Elia Douw)