Tekan Inflasi, Begini Saran BPS Mimika ke Pemkab
Kepala BPS Mimika, Ouceu Satyadipura. Foto: Dok/Papua60detik
Kepala BPS Mimika, Ouceu Satyadipura. Foto: Dok/Papua60detik

Papua60detik - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Mimika, Ouceu Satyadipura menyebut masalah ekonomi mempunyai efek domino, salah satunya inflasi. 

Ouceu menjelaskan, inflasi bisa dihitung secara tahunan year on year (y-on-y) yaitu membandingkan indeks harga konsumen di tahun tertentu ke tahun sebelumnya. Sedangkan inflasi m-to-m (month-to-month) adalah inflasi yang dihitung secara bulanan. 

Pada bulan November tahun lalu, inflasi terjadi karena harga daging babi melunjak capai Rp250 ribu per kilogram. Akibatnya inflasi year on year (y-on-y) meningkat. Kenaikan harga babi tersebut disebabkan virus African Swine Fever (Fever). 

Ouceu menyebut perhitungan inflasi tidak bisa dilihat dari satu komoditas saja, tetapi dari banyak indikator. Seperti di Kabupaten Mimika. Selain babi, banyak komoditas yang sering mengalami kenaikan harga. Sehingga perlu dibuat program untuk menurunkan itu. 

"Misalnya cabai, biasanya harga tinggi. Saya pernah mengusulkan kenapa kita tidak bikin program tanam cabai? Jadi, Pemda siapkan bibitnya, berikan tiga atau empat bibit sama polibagnya. Suruh setiap rumah wajib tanam. Itu pasti murah nanti harganya. Sekarang memang sudah dilakukan walaupun belum semua," kata Ouceu saat diwawancarai, Jumat (18/02025). 

Tingginya harga suatu komoditas karena stok dari luar terhambat karena gagal panen. Atau terhambat karena gelombang tinggi, kapal tidak bisa masuk. Semua faktor tersebut berkaitan dengan perhitungan ketahanan pangan.

Salah satu komoditas yang dihasilkan Mimika tanpa mendatangkan dari luar adalah telur. Namun, yang lainnya masih kurang dan perlu tambahan dari luar. Ia menyebut, kalau pengiriman lancar, itu tidak masalah, tapi kalau terhambat pasti akan berpengaruh pada harga. 

Menurutnya pemerintah perlu memberi masukan bagi para petani untuk meningkatkan komoditas tanaman yang berpotensi menekan harga. Namun, pemerintah juga harus memikirkan upaya bagaimana menyerap hasil tanaman petani. 

Misalnya, ketika para petani dibuat program menanam cabai kemudian tiba waktunya panen raya maka pemerintah harus siap menampung dan menyalurkannya ke daerah lain di mana komoditas cabai dibutuhkan.

"Misalnya kita buat program tanam cabai. Kasih bibit gratis, itu tidak cukup. Bayangkan kalau pada saat itu petani panen raya. Cabainya turun, rugi dia, terbuang-buang itu cabai, pasti petani kapok menanamnya. Maka, selain memikirkan penanaman, pemerintah juga harus memikirkan pasarnya," kata ouce. 

Ouceu menjelaskan perkara ekonomi tidaklah mudah. Tidak cukup hanya memikirkan satu titik. Ekonomi efeknya domino, ketika terjadi satu peristiwa dapat memicu serangkaian peristiwa serupa. Sama seperti inflasi. Tidak cukup hanya memikirkan bagaimana biar harga murah. Malah kalau harga murah yang rugi adalah petani. 

"Inflasi itu sebenarnya potret dari perubahan harga. Jadi semua harus kita pikirkan. Penghitungan inflasi memang ada di kami, tetapi indeks perubahan harga, yang hitung adalah Dinas perdagangan. Mereka kirimkan tim ke pasar, kami juga kirimkan tim ke pasar untuk balancing," pungkasnya. (Martha)