Tingkatkan Ekonomi Keluarga, Harmoni Alam Papuana Dampingi Masyarakat Kampung Waninggap Nanggo Bertani Organik
Papua60detik - Perkumpulan Harmoni Alam Papuana yang bergerak dalam pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat Papua, melakukan pendampingan kepada masyarakat Kampung Waninggap Nanggo, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa (8/7/2025).
Kepada media ini, Ketua Perkumpulan Harmoni Alam Papuana, Dewanto Talubun, menjelaskan pihaknya memiliki program pelestarian sumber daya alam dan peningkatan kehidupan masyarakat adat melalui pertanian berkelanjutan di Tanah Papua atau Papeda.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
"Ini telah diimplementasikan sejak 2018 sampai 2023 dengan menitikberatkan pada praktik pertanian berkelanjutan guna peningkatan penghidupan bagi masyarakat asli Papua. Untuk Program Papeda 4 kami melaksanakannya di Waninggap Nanggo, sebuah kampung lokal di Distrik Semangga,” katanya.
Sambunnya, program itu bertujuan untuk mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan untuk konservasi hutan dan lahan melalui penguatan kapasitas masyarakat tentang pertanian berkelanjutan, mengembangkan akses pasar bagi produk-produk pertanian yang dihasilkan serta perbaikan kebijakan lokal yang mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan sehingga berdampak pada peningkatan penghidupan masyarakat asli Papua.
"Kami melakukan proses pendampingan di Kampung Waninggap Nanggo. Ada tiga dusun yakni Wendu, Yatomb dan Bahor. Lahan yang dibuka seluas 1,7 hektare, dan kami membentuk tiga kelompok yang terdiri atas 15 orang tiap kelompok,” ungkap Dewanto.
Sebelum melaksanakan program di lapangan, diawali dengan sosialisasi dan diskusi bersama masyarakat. Selanjutnya melakukan kajian kesesuaian lahan di tiga dusun, memberikan pelatihan pembuatan pupuk dan perawatan tanaman organik, monitoring dan evaluasi program, hingga panen dan penjualan dengan menggunakan lapak sederhana di Waninggap Nanggo.
Dengan memanfaatkan hasil hutan dan lahan untuk pertanian organik, kata dia, masyarakat bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga meningkatkan ekonomi mereka. Dengan mengefektifkan pemanfaatan lahan dan hutan, masyarakat juga tidak mudah menjual tanah kepada pihak ketiga.
Dengan mengelola lahan sekitar kampung dan pekarangan untuk menanam tanaman perkebunan organik, kebutuhan pangan masyarakat lokal terpenuhi, selebihnya dapat dijual untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Salah seorang anggota kelompok binaan, Eduardus Basik Basik, mengaku saat menggembur tanah untuk ditanami, mereka menggunakan alat-alat tradisional seperti cangkul, kayu, dan parang.
“Waktu buka lahan pertama memang kami sewa gounder (traktor besar), tapi itu kami swadaya sendiri. Kami pergi jaring ikan, lalu jual dan uangnya dipakai sewa gounder. Tapi waktu gembur, kami pakai cangkul dan parang saja. Kami harap pemerintah membantu traktor dan alat-alat pertanian lainnya,” pungkasnya. (Jamal)