Virus ASF Merebak, Pedagang: Daging Babi yang Kami Jual Sehat
Aktivitas penjual daging babi di Pasar Sentral Timika. Foto: Martha/ Papua60detik
Aktivitas penjual daging babi di Pasar Sentral Timika. Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Di tengah maraknya pemberitaan mengenai virus African Swine Fever (ASF), para pedagang daging babi di Pasar Sentral Jalan Hasanuddin, Timika, Rabu (31/01/2024) terpantau masih buka lapak.

Salah satu penjual, Isdak, mengatakan kalau daging babi yang mereka jual adalah hasil peliharaan sendiri dan dijamin sehat. Menurutnya, selama ini mereka memotong dan menjual babi selalu mengikuti prosedur Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan (Disnakeswan).

"Kita bawa ke rumah pemotongan, ada dokter hewannya di dalam, dia cek, layak dipotong atau tidak. Kalau layak, ya, dipotong. Habis dipotong dia datang cek lagi," ujarnya. 

Saat ditanya mengenai respon masyarakat, Isdak mengatakan bahwa sejauh ini dia tidak tahu apakah masyarakat sudah tahu atau belum mengenai virus ini. Sedangkan para penjual daging babi di pasar mendapat informasi mengenai virus ini dari Disnakeswan.

"Nanti kalau lama-kelamaan virus ini belum juga hilang, tentu masyarakat akan menjadi takut membeli daging babi. Padahal, tidak semua babi itu terkena virus. Tapi sudah pasti masyarakat akan mempunyai kekhawatiran tersendiri," tambahnya. 

Para penjual dan peternak babi berharap agar virus ASF ini segera ditangani dan selesai secepat mungkin. Ia khawatir virusnya makin merebak dan meluas. Situasi itu akan membuat peternak kebingungan ke mana akan menjual babinya ditambah makanan babi yang semakin mahal. 

Pedagang yang lain, Andreas, mengatakan bahwa sejauh ini anjuran dari pemerintah untuk mengkarantina ternak babi belum terbit. Dan untungnya saat ini warga masih datang beli daging babi.

"Tidak tahu nanti, kalau sekarang masih ada yang datang membeli dan harga juga masih normal, Rp100 ribu per kilo," sahutnya. 

Dia pun menjamin kesehatan daging babi yang mereka jual di pasar mengikuti prosedur Disnakeswan. 

"Di sini juga kita tidak main-main, kalau sudah ketahuan ada yang terkena virus, pasti akan dicabut izin menjualnya. Kita cari makan di sini, jadi tidak mungkinlah kita mau melanggar aturan dari pemerintah. Kalau sudah kena, tidak akan dijual lagi," pungkasnya. (Martha)