Warga Kwamki Narama Datangi Kantor Bupati, Minta Pemerintah Hadir Selesaikan Konflik
Warga Kwamki Narama datangi kantor bupati minta selesaikan konflik. Foto: Istimewa
Warga Kwamki Narama datangi kantor bupati minta selesaikan konflik. Foto: Istimewa

Papua60detik - Masyarakat yang menjadi korban konflik berkepanjangan di Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah mendatangi Kantor Bupati di SP3, Timika, Senin (15/12/2025). 

Mereka protes atas minimnya respon Pemkab Mimika terhadap konflik yang sudah berlangsung tiga bulan hingga mengakibatkan rusaknya rumah warga yang tak terlibat.

Para korban datang dengan membentangkan spanduk bertuliskan keluh kesah warga. 

"Kami keluarga korban, rumah rusak, benda dicuri, dijarah," bunyi tulisan itu. 

Perwakilan korban, Martina Demetouw, mengatakan tujuan mereka ke kantor bupati untuk menuntut kebijakan tegas dari pemerintah.

"Kami datang dengan tujuan di sini bagaimana ada kebijakan dari pemerintah untuk kami pihak korban. Rumah kami dijarah, harta benda kami dijarah, bahkan kami diancam," ujarnya kepada wartawan. 

Tak hanya itu, aset jangka panjang dan ekonomi keluarga mereka, seperti tanaman, telah habis ditebang. Ia menyebut kondisi di Kwamki Narama mencekam hingga membuat warga harus mengungsi.

"Kasarnya, kami mau berak kencing saja, panah sudah jatuh di samping kami. Kami semua mengungsi, ekonomi kami terhambat, anak tidak sekolah dengan baik," ungkapnya. 

Mereka mendesak Bupati, Wakil Bupati dan DPR untuk turun langsung ke lokasi kejadian dan melihat kondisi rumah mereka yang sudah tidak ada lagi. Bahkan, beberapa rumah korban kini ditempati oleh pihak yang terlibat konflik. 

Sebelumnya, mereka mendatangi kantor DPRK, namun diarahkan menuju kantor bupati.

Mereka berharap Pemkab Mimika segera mengambil kebijakan bekerja sama dengan TNI-Polri untuk menghentikan konflik secara tegas.

Sebagai umat Kristiani yang akan segera merayakan Natal, mereka kini berada dalam kondisi ketakutan dan tidak tenang. Harusnya, di bulan ini warga merayakan Natal dengan suka cita, namun semua itu tak bisa dirasakan jika konflik terus terjadi. 

"Karena perang ini bukan satu bulan, tapi sudah tiga bulan tanpa solusi dari pemerintah untuk turun ke lapangan," pungkasnya. (Eka)