YPMAK Tinjau Perkembangan 3 Kios Binaan
YPMAK tinjau perkembangan 3 kios binaannya. Foto: Martha/Papua60detik
YPMAK tinjau perkembangan 3 kios binaannya. Foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dam Kamoro (YPMAK) selalu pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui divisi program ekonomi, Jumat (13/2/2025) meninjau perkembangan tiga kios binaan yang telah dilauching dua bulan lalu. 

Tiga kios tersebut adalah Amungin Mart di Jalan Trikora, Kwamki Baru dikelola oleh Yufinia Beanal. Sementara dua kios lainnya berada di Mile 32 dua yaitu Julia Mart dikelola oleh Marike Magai, dan Kenemo Mandiri Jaya Mart dikelola oleh Julita Omaleng. 

Dampingi tiga kios binaannya, YPMAK bekerja sama dengan Institut Jembatan Bulan dan CV Amungsa Berjaya Gemilang. 

Berdasarkan hasil tinjauan, setiap pengelola kios mengakui adanya perkembangan dari hari ke hari. Pendapatan tetap diperoleh meskipun jumlahnya tidak menentu. Sejalan dengan tujuan program, pemilik kios menyampaikan usaha kecil mereka memberikan keuntungan dalam sisi ekonomi. 

Deputi Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Billy Enerson Korwa menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiasi pengurus baru untuk mendorong lahirnya pelaku-pelaku usaha unggul dari masyarakat lokal, khususnya Amungme dan Kamoro. 


Program tahap awal difokuskan pada 20 kios kelontong. Menurut Bily langkah ini sengaja dimulai dari skala kecil agar masyarakat benar-benar siap secara mental dan manajerial.

Hingga kini, untuk suku Amungme sudah ada 8 kios yang dibangun, dua kios sementara proses penyelesaian, demikian juga dengan suku Kamoro. Bily berharap, paling lambat awal Maret 20 kios ini akan selesai. 

"Kita memang mulai dari hal-hal kecil karena memang masyarakat kita harus kita siapkan, belajar dari pengalaman sebelumnya. Hari ini, seperti yang kita lihat, mama-mama ini sudah dilatih bagaimana mengelola kios yang baik," katanya.

Kios binaan YPMAK ini juga dilengkapi dengan aplikasi yang lebih modern untuk memudahkan mama-mama mengelola usaha dan mencatat keuangan.

Selain 20 kios, divisi ekonomi juga berencana membangun laundry, rumah sagu. 

Billy mengatakan seiring berjalannya waktu usaha ini akan merambah ke pencucian motor, kopi, dan vco. Bagi pemula akan disediakan usaha mikro dan bagi yang benar-benar siap akan didorong untuk usaha makro.


Melalui mitra Institut Jambatan Bulan, Bily berharap para akademisi bisa membuat kajian-kajian sehingga ke depannya ada perbaikan-perbaikan dalam program ekonomi ini. 

"Kadang-kadang orang bilang kalau orang Papua yang kelola nanti pasti satu dua hari akan tutup. Kita sedang jalani proses, ini berkat kerjasama dengan kemitraan kita baik internal dan kemitraan eksternal kita," terangnya. 

Mitra YPMAK, CV Amungsa Berjaya Gemilang, Tehopilus Karubuy mengatakan pihaknya tidak hanya menyerahkan barang untuk dijual, tetapi juga mengarahkan mereka untuk memiliki jualan lain. Mulai dari hasil kebun seperti pisang, daun gatal. Pendampingan akan dilakukan selama satu tahun, tetapi pihaknya tidak keberatan memperpanjang apabila nanti masih dibutuhkan. 

"Kita juga berharap jualan mereka tidak hanya di sini, tetapi bisa sampai ke pedalaman. Kita bukan hanya mengejar di kios, tetapi bisa berkembang ke mana-mana," ujarnya. 

Sementara itu, salah satu pengelola kios, Marike Magai mengaku senang bisa mengelola kios yang diberikan YPMAK. Rata-rata penghasilan per hari yang didapatnya mencapai Rp400 ribu hingga Rp700 ribu. Bahkan salah satu kios pernah menghasilkan Rp1 juta per hari. Hasil yang didapat akan disetor ke BTN sebagai mitra yang mengelola keuangan kios. 

"Maunya itu usaha lebih dari ini lagi. Saya senang datang jualan. Dulu saya berkebun, pelihara babi. Memang capek dan bosan, tapi saya tetap buka," ujarnya. (Martha)