Kabupaten Mimika Masuk Tahap Pemulihan Wabah ASF
Papua60detik - Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan (Disnakeswan) Kabupaten Mimika, drh Sabelina Fitriani menyebut wabah African Swine Fever (ASF) di terpantau turun per Oktober 2024.
Peternak di Mimika pun mulai kembali mengisi ulang kandang-kandang yang kosong akibat ASF. Meskipun masih trauma, para peternak mulai beternak kembali dengan memelihara babi dalam jumlah terbatas.
“Sekarang itu lagi tahap pemulihan, ya. Mereka mulai berternak kembali tapi jumlahnya dibatasi. Sekarang kita intens menyampaikan untuk selalu melakukan penyemprotan kandang dengan desinvektan yang kami berikan,” ujar Sabelina saat diwawancarai, Senin (28/10/2024).
Menurutnya, dengan belum adanya vaksin untuk ASF maka kemungkinan terjangkit kembali sangat besar. Apalagi, jika tidak ada proteksi terhadap wilayah serta populasi babi yang masih tersisa.
Perlu diketahui, akibat wabah ASF ini, sudah lebih 10 ribu populasi babi di Mimika mati. Populasi babi di Mimika ditaksir sisa 3000 ekor saja.
Daging babi pun saat ini sudah jarang ditemukan di pasaran. Hal ini dikarenakan jumlah ternak Babi dewasa di Mimika yang sudah berkurang, ditambah banyak peternak yang memilih untuk tidak menjual ternak babinya agar dapat dijual di bulan Desember nanti.
Kelangkaan daging babi di pasaran membuat harganya juga naik. Sebenarnya ada pilihan untuk memenuhi kebutuhan atau melakukan pengisian ulang populasi babi di daerah, yaitu dengan cara memasok dari luar daerah yang belum tertular ASF.
Namun, kata Sabelina, untuk melakukan hal itu, dibutuhkan kajian serta analisa risiko. Mimika sendiri belum punya regulasi memasok ternak babi dari luar. Apalagi, banyak daerah yang kini sudah mulai tertular virus ASF, termasuk kabupaten tetangga.
“Saat ini memang tidak ada daerah di Papua ini yang secara nyata dinyatakan bebas, bahkan kabupaten tetangga sebetulnya sudah terancam. Kan, posisinya kemarin di Timika terjadi wabah dan otomatis kabupaten sekitarnya itu dikatakan sebagai daerah terancam dan tertular,” ujar Sabelina.
Sehingga perlu kewaspadaan dan pertimbangan dalam memasukkan daging dari luar. Ditakutkan apabila nantinya dilakukan pengambilan babi dari luar Mimika justru kembali membahayakan ternak-ternak babi yang tersisa. Lebih aman menurutnya, menunggu babi yang tersisa berkembang biak.
“Kita prediksi di 2025 itu ada 4 000 ekor karena sekarang posisi induk babi yang bunting pada saat ini ada 300 ekor, jadi kita perkirakan di pertengahan 2025 ada 4000 ekor anak babi yang lahir,” pungkasnya. (Martha)