Kasus Bullying di Smart Kids: Siswa Masuk Rumah Sakit, Sekolah Buka Suara
Siswa  kelas V SD Smart Kids dilarikan ke rumah sakit usai mendapat bullying di sekolah. Foto: Istimewa
Siswa kelas V SD Smart Kids dilarikan ke rumah sakit usai mendapat bullying di sekolah. Foto: Istimewa

Papua60detik - Kasus dugaan bullying kembali terjadi di salah satu sekolah swasta di Timika pada Kamis 23 April 2026. Informasi ini mencuat ke publik lewat media sosial Facebook, setelah akun @Sandre Lhialoge memposting kejadian tersebut

"Stop bullying. Jangan normalisasi kekerasan dengan  dalih masih anak-anak," ujarnya melalui caption yang memperlihatkan seorang anak sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit. 

Dari penelusuran, diketahui bahwa korban adalah seorang siswa kelas V SD bernama Azka yang bersekolah di Smart Kids. Ia dilarikan ke RSUD karena mengalami luka yang diduga akibat tindakan bullying di sekolah

Saat dikonfirmasi, orang tua korban menyatakan bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan secara damai antara kedua belah pihak yakni keluarga korban dan pelaku. 

Namun demikian, perhatian publik tertuju pada berbagai komentar di unggahan tersebut. Sejumlah akun mengaku bahwa kasus bullying di sekolah tersebut bukan kali pertama terjadi. Bahkan, ada yang menyatakan telah memindahkan anak mereka ke sekolah lain karena mengalami hal serupa.

"Maaf, pantat adek saya disundul pake dengkul sama temennya. Mana posisinya adek saya abis op usus buntu kan. Malam nya bagian belakang nya bengkak dan dia kesakitan sampai hari Seninnya. gak masuk karena harus cek lagi ke rsud," Demikian kutipan dari salah satu komentar. 

"Saya juga, anakku sudah kukasih pindah, karena suka murung. Temannya tidak ada yang ajak main semenjak roling kelas naik kelas dua. Saya tidak mau banyak mengeluh di guru, pas diliat nilainya makin amburadur saya bergegas pindahkan dia di skolah sebelah," ujar komentar lain.

 

Dikonfirmasi hal tersebut, CEO Smart Kids, Sudarlan mengklaim pengawasan siswa di sekolah sangat ketat. Katanya, setiap permasalahan di sekolah tidak pernah sampai viral karena selalu diselesaikan secara internal. Ia menilai pemilik akun facebook yang memposting kejadian itu sebagai 'kepo', padahal katanya bukan orang tua siswa.

Katanya, setiap hari guru melakukan evaluasi setelah kegiatan belajar mengajar untuk memantau kondisi siswa. Selain itu, sekolah juga rutin mengadakan pertemuan bulanan dengan orang tua serta menjaga komunikasi aktif melalui grup WhatsAp.

Sudarlan mengatakan komentar-komentar yang beredar sebagian besar berasal dari orang tua yang anaknya tidak lagi sekolah di Smart Kids.

Ia menuding, beberapa pihak yang berkomentar merupakan orang tua dari siswa yang telah dikeluarkan karena tidak mematuhi peraturan sekolah.

"Yang komentar tadi anaknya pasti tidak di Smart Kids lagi, sudah dikeluarkan. Makanya kami gak mau komentar apapun, kenapa? Tidak ingin memperkeruh suasana. Masalah sudah selesai, mau ngapain lagi?" katanya saat diwawancarai, Senin (27/04/2026). 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Antonius Welerubun, belum bisa berkomentar banyak terkait kasus ini. Ia menyebut, tim masih melakukan penelusuran untuk mengumpulkan data yang akurat terkait kasus ini.

"Lagi ditelusuri, sabar ya. Belum dapat data yang akurat," jawabnya singkat. 

Di sisi lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika, Johana Arwam mengimbau agar setiap kasus bullying segera dilaporkan. Hal ini penting untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap kondisi mental dan psikologis anak. Sekolah harusnya jadi lingkungan ramah dan aman bagi anak..

Ia mendorong pihak sekolah lebih aktif dalam mencegah terjadinya bullying. Apalagi sekarang ini kasus bullying bisa berlanjut ke tidak kekerasan. 

"Beberapa waktu lalu ini saya ada baca berita tetapi tidak ada yang berani melapor. Kami sudah sampaikan ke petugas mungkin ke depan ini kita harus jemput bola ke sekolah-sekolah. Bullying sekarang ini sudah luar biasa," pungkasnya. (Martha)