Mediasi Alot, Supplier 7 Suku Anggap Belum Ada Solusi Permanen
Papua60detik - Supplier 7 suku akhirnya bertemu dengan perwakilan PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam mediasi di SPKT Polres Mimika, Senin (8/7/2024).
Kanit SPKT I Polres Mimika, Aiptu Frangki Singal bertindak sebagai mediator. Dari pihak PTFI hadir Manager Strategic Planning & Essential Support Services, Rudi Toba berserta dua rekannya Raimond Dimara dan Ruben Mares beserta kuasa hukumnya. Sementara supplier tujuh suku diwakili koordinatornya, Yance Sani dan rekan-rekan suppliernya.
Rudi Toba pada mediasi yang berlangsung alot itu menceritakan kronologi pengalihan purchasing order (PO) ke PT Tri Boga yang merugikan CV Bungok sebagai supplier. Ia menawarkan solusi, akan menutupi kerugian yang dialami CV Bungok.
Setelah mendengar aspirasi para supplier, ia pun menjanjikan bakal melakukan pengawasan ke bawah, yakni ke PT Pangan Sari Utama (PT PSU) dan vendor-vendornya.
"Selama ini kami percayakan ke Pangan Sari untuk mengelola itu. Ke depannya kami akan turun langsung. Kita akan monitor ketat ke depannya ini Pangan Sari. Tapi solusi jangka pendek yang cepat ini, kami Freeport sudah komitmen tidak boleh ada yang dirugikan. PO dicancel, (barang) sudah terlanjur datang, itu akan kami ganti. Kita akan beli itu," kata Rudi Toba.
Bagi Direktur CV Bungok, Gerardus Wamang, persoalan yang menimpa perusahaannya tak sederhana. Di sana terjadi pelanggaran etika bisnis. Bagaimana tidak, PO-nya dibatalkan tanpa pemberitahuan, tanpa komunikasi apalagi negosiasi. Ia menyebutnya sebagai perampasan. Gerardus bersikukuh PT Tri Boga tak boleh lagi beroperasi di Timika.
"Kenapa kamu rampas, itu namanya pencuri, rakus. Tidak boleh. Saya tidak berbicara tambang, saya tidak bicara emas. Bahaya sekali kamu. Tri Boga ini dari mana? Ini bukan PT Freeport yang merusak, tapi oknum-oknum. PT Triboga saya tidak mau lihat, awas," kata Gerardus.
Mewakili supplier 7 suku, Yance Sani mengatakan, apa yang terjadi pada CV Bungok hanya bagian kecil dari luas dan besarnya persoalan yang dihadapi pengusaha orang asli Papua. Ia mengaku memiliki data telah terjadi penghilangan PO, pengurangan dan pengalihan PO pengusaha orang asli Papua.
PO dalam bentuk program magang bagi pengusaha pemula orang asli Papua pun kini dihilangkan. Dari sisi nilai PO, pengusaha orang asli Papua pun terbilang kecil. Sebagai contoh, Deki Tenoye selaku Direktur PT Cahaya Papua Center mendapatkan PO yang nilainya Rp18 juta.
"Cukup permainkan saya punya orang-orang tua. Cukup. Bagi saya ini hanya penjelasan dan pembelaan diri (PTFI). Jika hanya begitu, hal ini akan terus terulang lagi. Saya bicara di sini supaya adik-adik saya tidak dapat tipu lagi," sanggah Yance.
Menurutnya, solusi berupa penggantian kerugian bukan solusi permanen. Tak ada jaminan pengusaha orang asli Papua tak mengalami hal serupa di kemudian hari. Sebab itu, solusi tersebut bukan jawaban atas keresahan supplier 7 suku.
Soal pemalangan kantor PT PUMS, Kopkar Sarima dan PT Tri Boga, ia pastikan masih terus dilanjutkan sampai Supplier 7 suku mendapat jawaban atas poin-poin tuntutannya.
"Kami sudah buat pernyataan sikap. Saya pikir itu menjadi acuan untuk dievaluasi oleh PT Freeport," katanya. (Burhan)