Polisi Terbitkan DPO Terduga Pelaku Penembakan Pilot di Alama
Kombes Bayu Suseno, AKBP I Komang Budiartha dan Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey pada konferensi pers kasus penembakan pilot Glen Malcolm Conning di Alama. Foto: Eka/ Papua60detik
Kombes Bayu Suseno, AKBP I Komang Budiartha dan Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey pada konferensi pers kasus penembakan pilot Glen Malcolm Conning di Alama. Foto: Eka/ Papua60detik

Papua60detik - Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz telah menetapkan Daftar Pencarian Orang alias DPO terhadap terduga pelaku penembakan pilot asal Selandia Baru Glen Malcolm Conning pada 5 Agustus 2024 lalu di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. 

Adapun terduga pelaku bernama Perintakola Lokbere alias Malas Gwijangge dan empat orang anggotanya. 

"Malas Gwijangge anak buah Egianus Kogoya, dan motifnya masih belum diketahui apakah ada permasalahan dengan proyek atau penerbangan atau dengan masyarakat di sana sampai sekarang belum kami ketahui. Pelaku lain empat orang sedang kami dalami," ungkap Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2024, Kombes Pol Bayu Suseno dalam konferensi pers di Posko ODC 2024, Jalan Agimuga, Rabu (14/8/2024). 

Kapolres Mimika AKBP I Komang Budiartha mengatakan telah memeriksa 12 saksi. Selain itu telah diamankan barang bukti (BB) pada saat olah tempat kejadian perkara (TKP) enam butir selongsong peluru, lima buah serpihan logam, topi warna hijau, kacamata hitam, headset helikopter dan barang lainnya.

"Setelah dilakukan pemeriksaan saksi, kita menetapkan DPO Malas Gwijangge. Berdasarkan keterangan saksi terdapat lima pelaku salah satunya bernama Malas Gwijangge ini," kata Kapolres. 

Sedangkan Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey mengatakan pihaknya punya mandat melakukan pengawalan terhadap kasus ini. 

"Ini menjadi tanggung jawab negara sebagai bagian penegakkan hukum," ucapnya. 

Komnas HAM, katanya telah melakukan melakukan pemantauan pro aktif. Otoritas sipil di Mimika justru menurut penilaiannya tak pro aktif padahal akibat kejadian itu, kalangan sipil di Alama tak lagi mendapat pelayanan pemerintah.

"Sebelum kejadian ini, tentu ada dinamika, lalu kepala distrik atau otoritas sipil ini bekerja tidak? Pasca kejadian ini ada korban dan masyarakat sipil ada ratusan tidak mendapat pelayanan dan menjadi terabaikan," tegasnya. (Eka)