91 Warga Cek Kesehatan Jiwa di Puskesmas Timika, Tiga Seharusnya Dirawat
Papua60detik - Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan melakukan pengobatan ODGJ dan konsultasi psikologis dengan mendatangkan spesialis kedokteran jiwa RSJD Abepura Jayapura, dr Manoe Bernd Paul.
Pemeriksaan ini terbuka untuk umum, selama dua hari, Senin-Selasa (24-25 Maret 2025) di Puskesmas Timika.
Baca Juga: RSUD Mimika Tambah Ruang Rawat Inap
Dokter Spesialis Jiwa, dr Bernd mengatakan, dalam dua hari total 91 pasien datang memeriksakan diri dan melakukan konsultasi. Pasien-pasien itu merupakan pasien-pasien sebelumnya dan juga pasien baru. Hasilnya, ada 3 pasien yang memiliki tingkat kegelisahan tinggi yang seharusnya dilakukan perawatan.
Pasien mulai dari anak-anak hingga dewasa dengan beragam kasus dan tingkat diagnosa yang beda-beda. Mulai dari gangguan jiwa berat hingga gangguan emosi.
"Hari pertama itu kebayakan pasien yang datang keluhannya gangguan emosi, seperti merasa cemas, sulit tidur, over thingking, sulit mengendalikan emosi, dan depresi. Sementara di hari kedua banyak pasien mengeluh dengan perubahan perilaku, perubahan proses berpikir dan berhalusinasi," terang dr Bernd saat diwawancarai.
Pada anak-anak, kata dr Bernd, umumnya disebabkan gangguan perkembangan saraf yang sudah terlambat dan terjadi sejak masih dalam kandungan. Namun, gejalanya biasanya baru terlihat di atas 2 sampai 3 tahun. Gejala yang bisa terlihat adalah keterlambatan berbicara, keterlambatan berjalan atau keterlambatan kemampuan motorik kasar dan motorik halus, dan kekurangan kemampuan berinteraksi sosial.
Sementara gangguan jiwa pada orang dewasa dipengaruhi oleh interaksi tiga faktor, yaitu biologis, psikologis dan sosial atau lingkungan.
dr Manoe Bernd menjelaskan, pengobatan gangguan jiwa ini adalah pengobatan jangka panjang. Apabila pengobatan dihentikan, kemungkinan gejalanya bisa kembali bahkan akan semakin parah. Namun, jangka waktu pengobatan tidak bisa ditentukan, tetapi tergantung diagnosis dan lingkungan pasien.
Dinas Kesehatan sendiri melakukan berbagai tindakan terkait dengan gangguan jiwa ini, seperti melakukan pengobatan deteksi dan juga memberi pelatihan-pelatihan pada guru bagaiamana mengenali anaka-anak dengan kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.
Menanggapi tingginya kasus gangguan jiwa di Timika, dr Bernd menyarankan di Timika didirikan rumah sakit jiwa untuk mempermudah konsultasi dan penanganan langsung bagi pasien.
"Intinya kalau ada, akan semakin baik. Itu kan tergantung dari kebijakan dan ketersediaan anggaran. Lagipula, rumah sakit jiwa itu bukan sekadar bangun gedung saja. Harus disiapkan SDM dan peralatan dan sebagainya," pungkasnya. (Martha)