Bagaimana Mengatasi Kekerasan Seksual Berulang di Asrama Taruna Papua?
Papua60detik - Setidaknya sudah dua kali Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika jadi sorotan publik karena kasus kekerasan fisik dan seksual terhadap siswa.
Maret 2021, seorang pembina asrama di SATP berinisial DF ditangkap karena melakukan kekerasan fisik di dan seksual terhadap puluhan siswa.
September kemarin, polisi kembali menangkap security SATP berinisial RM atas laporan kekerasan seksual terhadap seorang siswa.
SATP merupakan sekolah milik Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) yang mengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia. Yayasan Lokon yang dipercayakan mengelola sekolah berbasis asrama bagi anak Amungme Kamoro tersebut.
Direktur YPMAK, Vebian Magal mengaku bersama PTFI telah memanggil Yayasan Lokon memaparkan program agar peristiwa yang membuat korban trauma itu tak terus berulang.
Pihak pengelola katanya sudah menyiapkan program khusus. Pertama, membentuk Satuan Tugas (Satgas) perlindungan anak jangka panjang. Kedua, membentuk tim psikiater untuk penanganan dan pemulihan anak-anak yang jadi korban.
Ketiga, membentuk tim kerohanian bagi semua siswa SATP. Keempat, memprogramkan psikotes bagi karyawan, dan juga siswa atau guru dan pembina yang ada di lingkungan SATP.
Dan kelima, membentuk tim keamanan dan keselamatan bagi anak di lingkungan SATP. Keenam, menggalakkan ekstrakurikuler di luar jam belajar.
“Ada sekitar 100 lebih ekstrakurikuler yang dilakukan. Ini adalah yang terbanyak di semua sekolah yang ada di Timika,” kata Vebian pada press conference di ruang rapat YPMAK, Jumat (12/11/2021).
Program terakhirnya adalah pendidikan seksual usia dini. Program ini dimasukkan dalam kurikulum.
“Ini hasil rapat kemarin. Kemarin mereka datang cukup lengkap. Ketua Yayasan, Kepsek, kepala asrama dan beberapa pembina dan tim psikiater yang ada di STAP. Kami rapat panjang lebar,” ungkapnya.
Vebian menilai program-program SATP ini secara sistematis sudah bagus. Dan ia berharap ke depan ini bisa ditingkatkan terus.
Program ini katanya, akan dijalankan dengan pendekatan lokal dan tanpa kekerasan. (Anti Patabang)