BMKG Imbau Warga Waspada, Angin Kencang Diprediksi Bisa Terjadi Sepekan
Forecaster BMKG Mimika William Titahena, foto: Martha/ Papua60detik
Forecaster BMKG Mimika William Titahena, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Pasca kejadian angin kencang yang terjadi di Timika, Rabu (14/01/2026) malam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Mimika memprediksi potensi angin kencang masih dapat terjadi di wilayah Timika dan sekitarnya dalam tujuh hari ke depan.

Forecaster BMKG Mimika William Titahena menjelaskan, kecepatan angin maksimum tadi malam sudah tergolong berbahaya yaitu 34,6 knot atau sekitar 70 kilometer per jam. Kecepatan tersebut jauh di atas batas normal angin yaitu di bawah 10 knot.

Beberapa faktor yang mempengaruhi angin kencang tersebut adalah saat ini wilayah Mimika sedang berada dalam musim baratan yang dikenal dengan kecepatan angin kencang. Faktor lainnya adalah munculnya pusat tekanan rendah bersifat siklonik yang terpantau berada di bagian utara dan tenggara Papua.

"Pusat tekanan rendah ini baru diamati tadi malam. Kalau ditanya angin kencang ini berlakunya sampai kapan? Kalau dari kami, Ini bisa satu minggu. Biasanya, dalam tujuh hari pusat tekanan rendahnya baru melemah atau hilang, maka angin tidak akan sekencang tadi malam," kata William saat diwawancarai, Rabu (14/01/2026). 

William menyebut, angin kencang umumnya lebih dominan terjadi pada sore hingga malam hari, sementara pada siang hari kecepatan angin relatif lebih rendah akibat sinar matahari yang mempengaruhi perbedaan tekanan udara.

Dengan prediksi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menghindari pohon-pohon besar, bangunan yang tidak kokoh, serta rutin memperhatikan peringatan dini cuaca.

“Kalau rumah dirasa tidak kuat, lebih aman berada di luar sementara saat angin kencang terjadi. Di wilayah perairan juga seperti nelayan bagusnya berlayar di pagi hari. Kalau siang ke malam angin semakin kencang," pungkasnya. 

Meskipun angin kencang, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini bukan termasuk tornado atau puting beliung, karena memiliki mekanisme dan penyebab yang berbeda. (Martha)