Budaya Pulang Kampung, Penumpang Melonjak di Bandara Mozes Kilangin
Penumpang di Bandara Mozes Kilangin Timika, foto: Dok/ Papua60detik
Penumpang di Bandara Mozes Kilangin Timika, foto: Dok/ Papua60detik

Papua60detik - Arus mudik Lebaran 2026 di Kabupaten Mimika diperkirakan meningkat sekitar 4 persen. Tren lonjakan penumpang yang terus berulang setiap musim libur besar. 

Kementerian Perhubungan pun telah mengantisipasi kenaikan ini dengan mengacu pada data pergerakan penumpang pada periode Natal, Tahun Baru, dan Lebaran di tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Unit Pelaksana Bandar Udara (UPBU) Mozes Kilangin Timika, Muchammad Nafiek, mengatakan budaya pulang kampung saat libur panjang menjadi pemicu utama tingginya permintaan transportasi.

"Secara nasional, rata-rata semua moda transportasi mengalami kenaikan populasi perjalanan. Namun, ada fenomena moda split atau pergeseran moda, misalnya dari udara ke kereta api di wilayah tertentu. Untuk di Timika sendiri, lonjakan sudah mulai terasa," ujar Nafiek saat diwawancarai, Selasa, 17 Maret 2026.

Mengatasi lonjakan, Nafiek menjelaskan bahwa armada pesawat komersial di Indonesia yang berjumlah sekitar 400 unit saat ini bekerja ekstra keras dengan ribuan kru yang disiagakan tanpa henti untuk melayani seluruh rute nusantara.

"Pesawat jumlahnya sekian ratus kan, orangnya sekian ribu, berarti itu orangnya bekerja terus pesawatnya nggak pernah tidur gitu. Itu untuk mengatasi yang namanya lonjakan tadi itu, itu yang disiapkan," ungkapnya. 

Bukan hanya masalah kenaikan penumpang, fenomena unik juga terjadi pada harga tiket di Timika. Saat ini, harga tiket ke luar dari Timika menuju Jakarta atau daerah lain di Indonesia terpantau tinggi, sementara arus sebaliknya (masuk ke Timika) cenderung lebih rendah.

"Para pekerja di sini memanfaatkan libur panjang untuk pulang ke daerah asal, sehingga permintaan ke luar sangat tinggi. Seperti hukum pasar, saat permintaan naik tapi kursi terbatas, harga akan terkoreksi naik," terangnya. 

Masyarakat juga menyoroti harga tiket pesawat di aplikasi pemesanan daring yang bisa mencapai belasan juta rupiah. Menanggapi hal ini, Nafiek menjelaskan bahwa mahalnya harga tersebut biasanya disebabkan oleh rute penerbangan dengan transit yang dilalui.

Ia menyebut, algoritma aplikasi kerap memilih rute memutar ketika penerbangan langsung sudah penuh. Akibatnya, harga tiket menjadi lebih tinggi karena merupakan akumulasi dari beberapa penerbangan.

Nafiek pun mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan lebih awal di masa mendatang agar dapat menikmati skema tarif insentif. Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Keuangan, Pertamina, dan AirNav telah memberikan berbagai insentif sejak 10 Februari 2026 lalu. 

"Insentif itu meliputi pemotongan biaya pelayanan bandara sebesar 50 persen, pengurangan PPN dari 11 persen menjadi 5 persen, penurunan fuel surcharge (tambahan biaya bahan bakar) untuk pesawat jet dan propeller," pungkasnya. (Martha)