Bupati Yahukimo Bantah Isu Guru-Nakes Merangkap Intelijen
Papua60detik - Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli membantah tudingan yang menyebut guru dan tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di Anggruk bagian dari aparat intelijen TNI-Polri.
Ia menegaskan, para guru-nakes yang jadi korban serangan TPNPB-OPM itu bukan tenaga baru. Mereka direkrut sejak 2021 lewat proses terbuka.
"Ada yang mengatakan mereka anggota TNI-Polri atau mata-mata, itu tidak benar. Kalau mereka punya bukti, tolong tunjukkan kepada saya, dari kesatuan mana, nomor anggotanya berapa? Kalau benar, saya siap mundur dari jabatan Bupati," tegasnya.
Seperti diketahui, pada Jumat 21 Maret 2025 TPNB-OPM menganiaya guru-nakes dan membakar sejumlah bangunan di Distrik Anggruk. Akibat peristiwa itu, satu orang guru meninggal dunia, tiga luka berat, empat luka ringan, dan tiga orang lainnya selamat. Para korban berhasil dievakuasi pada Minggu 23 Maret. Informasi yang sebelumnya beredar yang menyebutkan enam korban meninggal adalah tidak benar setelah dilakukan verifikasi di lokasi.
TPNPB-OPM lewat juru bicaranya, Sebby Sambom mengakui bertanggung jawab atas peristiwa itu. Sebby menyebut serangan itu dilakukan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
Ia berdalih, para korban adalah agen intelIjen Indonesia. Pengesahan revisi UU TNI katanya membuktikan bahwa TNI telah menduduki jabatan sipil di Indonesia.
Bupati Didimus Yahuli menegaskan, pemerintah memiliki etika dan moral dalam memimpin, tidak akan menyelundupkan mata-mata sebagai guru-nakes seperti yang dituduhkan.
"Itu 100 persen tidak benar. Proses rekrutmen kami terbuka dan diketahui publik. Setelah rekrutmen, para pendeta mendoakan dan mereka menandatangani perjanjian kerja sama," katanya. (Burhan)