Cerita Penyintas Bencana Cuaca Ekstrem di Puncak, Masak Sayuran Busuk Sampai Muntah
Mandelus Tabuni, salah satu warga Agandugume, Kabupaten Puncak.  Foto: Amma/ Papua60detik
Mandelus Tabuni, salah satu warga Agandugume, Kabupaten Puncak. Foto: Amma/ Papua60detik

Papua60detik - Sudah hampir tiga bulan warga di Distrik Agandugume dan Distrik Lembawi, Kabupaten Puncak, Papua Tengah dihantam bencana kekeringan dan cuaca ekstrem.

Kekeringan dan cuaca ekstrem mengakibatkan tanaman warga membusuk. Kelaparan mengancam.

Mandelus Tabuni, salah satu warga Agandugume yang berhasil bertahan hidup dan kini berada di Kabupaten Mimika mengungkap cara mereka mengatasi situasi.

Agar tak kelaparan, ungkapnya, warga terpaksa memetik tanaman dan sayuran yang telah membusuk buat dimasak. Akibatnya, sakit perut sampai muntah-muntah. 

Tujuh warga sebutnya, telah meninggal setelah mengalami hal tersebut.

"Kita makan makanan yang terkena salju. Sakit perut sampai muntah-muntah sampai ada yang meninggal karena itu. Sayur yang sudah layu (mulai membusuk) kita tetap masak untuk makan agar bisa bertahan," ungkapnya saat ditemui di Bandara Mozes Kilangin Timika, Kamis (2/8/2023).

Distrik Agandugume dan Lembawi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah cukup berdekatan jaraknya. Cuaca ekstrem seperti sekarang menurutnya sudah musiman.

Yang berbeda tahun ini, kata Mandelus, warga mendapat perhatian dari sejumlah pihak, dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. 

"Dulu tidak ada bantuan seperti sekarang. Untuk itu, kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena telah dibantu," imbuhnya. (Amma)