Cerita Steven, Peternak Babi yang Merugi Rp700 Juta Karena Wabah ASF
Seorang peternak babi di Timika, Steven Rantung. Foto: Martha/ Papua60detik
Seorang peternak babi di Timika, Steven Rantung. Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Merebaknya virus African Swine Fever  (ASF) sejak Januari tahun ini membuat kerugian besar bagi para peternak babi di Kabupaten Mimika. 

Salah satu peternak yang terkena dampak adalah Steven Rantung. Dia membeberkan bagaimana virus ASF nyaris menghabiskan  semua ternak babinya.

Ia mengakui, awal informasi merebaknya wabah itu ia tak begitu waspada. Kewaspadaan muncul ketika ASF sudah meluas ke beberapa wilayah.

"Dan ketika wabah itu berada di Nawaripi, di situlah kami mulai melakukan antisipasi dengan melakukan penyemprotan-penyemprotan, pemberian vitamin ke peternak yang ada. Kebetulan pada waktu itu saya mempunyai lebih dari 80 ekor babi," katanya, Selasa (14/5/2024).

Semua anjuran Disnakeswan diikutinya, dari pemberian serum sampai rutin bersihkan kandang. Semua upaya itu tak mempan.

"Kami berbondong-bondong mengambil serum, tapi walaupun disuntikkan serum, ternyata virus ini sangat kuat. Babi semakin banyak yang mati," ungkapnya. 

Dari 87 ekor babinya, kini sisa tiga ekor di kandangnya. 84 ekor mati karena ASF. 

"Wilayah aliran sungai, mereka yang duluan dapat. Bahkan ada yang langsung mati semua. Tidak seperti saya, babi saya mati seperti dicicil. Seandainya mereka mati langsung semua, biaya pemeliharaannya juga pasti stop," keluhnya. 

Babinya yang mati tak kenal usia, dari dewasa sampai anakan. Ia menaksir, menderita kerugian sampai Rp700 juta.

Saat ini Steven dan peternak lainnya belum berencana untuk menambah ternak babi. Apalagi, wabah ASF belum lagi dilaporkan sudah mereda.

Ia hanya meminta pihak bank meringankan beban peternak di Mimika. Banyak rekan-rekannya yang mengambil kredit buat kembangkan usaha sebelum ASF. Dan ASF tiba-tiba datang, rencana pengembangan ternak pun ambyar.

"Kami minta perhatian dari pihak bank, agar diberi keringanan untuk pembayaran kredit. Karena bagaimanapun musibah ini tidak terduga dan tidak diharapkan," harapnya.

Ia pun tak menyalahkan Disnakeswan yang jadi leading sektor penanganan ASF. Menurutnya ASF datang tiba-tiba tanpa diminta. 

"Kami dengar-dengar juga, Dinas Peternakan suruh kita buatkan proposal untuk diajukan ke pusat siapa tahu ada bantuan, tapi itu belum pasti. Makanya kemarin setiap babi yang dikuburkan di Lokpon atau Iwaka semua didata," katanya. (Martha)