Danrem Sembiring: Korban Pembunuhan di Pegunungan Bintang Bukan Intelijen
Papua60detik - Komandan Korem 172/PWY Brigjen TNI JO Sembiring membantah tuduhan Kelompok Separatis Teroris (KST) pimpinan Nason Mimin yang menyebut tiga korban pembunuhan di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah aparat intelijen negara.
Danrem menyebut, tiga orang korban yang telah dibunuh secara keji oleh KST di Kampung Mangabib, Distrik Oksebang merupakan warga sipil yang berprofesi sebagai tukang ojek.
"Jadi tidak benar kalau mereka (KST) menyebut para korban adalah aparat Intelijen, mereka benar-benar masyarakat sipil yang sehari-harinya mencari sesuap nasi demi memenuhi kebutuhan keluarganya dengan berprofesi sebagai tukang ojek," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (12/12/2022).
Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada Senin (5/12/2020) lalu. Kelompok yang menyebut diri TPNPB-OPM itu lalu menyebarkan video dan menyebut tiga korban tersebut sebagai aparat intelijen TNI-Polri. Adapun nama korban yaitu La Usu (23), La Ati (40) dan La Aman (39).
Danrem mengatakan, kelompok tersebut sengaja meletakkan senjata jenis pistol seolah-olah barang yang dibawa oleh korban.
"Hal ini merupakan cara licik yang dilakukan oleh KST untuk menutupi kebiadaban dan membenarkan apa yang mereka lakukan," kata Danrem.
Terkait dengan pistol yang digunakan oleh KST, pihaknya mengindikasikan senjata pistol tersebut merupakan salah satu senjata organik milik TNI AD yang hilang ketika Heli MI 17 milik Penerbad jatuh pada tahun 2019 silam di Kabupaten Pegunungan Bintang.
"Pada kejadian jatuhnya Heli MI-17 pada tahun 2019 lalu, sebanyak 11 senjata organik milik kru dan penumpang hilang dan diambil oleh pihak KST. Senjata yang hilang diantaranya tujuh senapan serbu SS-1, tiga pistol dan satu GLM. Kami mengindikasikan pistol yang digunakan oleh KST tersebut merupakan salah satu senjata yang hilang," ujarnya.
Selaku Danrem 172/PWY, pihaknya menyampaikan duka cita kepada keluarga korban.
"Saya mewakili seluruh prajurit Korem 172/PWY menyampaikan duka cita yang mendalam bagi keluarga korban kekejian dan kebiadaban KST ini," ujarnya. (Amma)