Diskusi Nobar 'Pesta Babi' Warga Simapitowa Nabire: Stop Jual Tanah Adat
Papua60detik - Warga Nabire kembali menggelar nonton bareng (Nobar) film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'.
Sabtu (13/6/2026), masyarakat Siriwo, Dipa, Menou, Mapiha, Piyaiye, Sukikai, Topo, dan Wanggar (Simapitowa) nobar di Aula SMK Negeri 2 Jayanti, Nabire.
Baca Juga: TNI Buka Suara Soal Mama Yasinta
Nobar kali ini menghadirkan sejumlah tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, Dewan Adat pemuda Papua Tengah, Komisariat Daerah Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, komunitas Green Papua kolektif kota Nabire, aktivis, tokoh pemuda, dan masyarakat Simapitowa.
Penanggap film, Marius Petege mengatakan Film 'Pesta Babi' jadi media edukasi yang memberikan konstribusi nyata kepada masyarakat untuk menjaga tanah adat dari perampasan liar oleh para investor.
"Jangan jual tanah adat, jika kita jual tanah adat, sama saja kita jual nafas hidup," katanya.
Ia berharap masyarakat adat tidak membiarkan investasi yang berpotensi merusak alam masuk di wilayah Simapitowa. Program strategis Nasional (PSN) di Merauke katanya sebagai contoh bagaimana masyarakat adat melakukan perlawanan atas ketidakadilan.
"Kita melawan para investor dan negara bukan dengan alat tajam tetapi bentuk protes demontrasi, dialog, dan tulisan," katanya.
Di kesempatan itu, Ketua Dewan Adat Pemuda Papua Tengah, Abeth Gobai mengatakan dinamika PSN ini tidak terjadi di Merauke saja melainkan seluruh penjuru Bumi Cenderawasih.
Katanya, eksploitasi tanah adat seperti PSN di Merauke jadi tantangan terbesar masyarakat adat di tanah Papua. Sebab itu ia meminta masyarakat adat mempertahankan tanah adatnya. Film 'Pesta Babi' menurutnya, telah menunjukkan negara, elit nasional dan oligarki bekerja sama.
"Saya pikir ada beberapa lembaga yang harus diperkuat. Paling penting lembaga adat. Lembaga adat yang tidak berkompromi dengan militer tidak berkompromi dengan pemerintah, yang betul-betul lahir dari masyarakat adat untuk mempertahankan tanah adat. (Elia Douw)