Dari Emperan ke Pabrik Sagu: Ini Kisah Pak Kuslan
Kuslan bersama pendamping kelompok tani Makmur Jaya, Lodit di rumah produksi pabrik tepung sagunya. Foto: Anti Patabang/Papua60detik
Kuslan bersama pendamping kelompok tani Makmur Jaya, Lodit di rumah produksi pabrik tepung sagunya. Foto: Anti Patabang/Papua60detik

Papua60detik - Pak Kuslan datang ke Timika di tahun 2003. Dari Pulau Jawa, di kantongnya tersisa Rp25 ribu.

Di Timika, Kuslan tak punya satupun keluarga. Ia senekat itu merantau. Karena kenekatannya, ia terpaksa tidur di emperan toko.

Kepada Papau60detik ia bercerita, ketika itu, bahkan ia pernah tidak makan selama dua hari karena sudah tidak punya uang.

Pekerjaan pertamanya, adalah buruh bangunan. Ia ikut kerja borongan. Saat uang simpanannya ia rasa cukup, Kuslan kembali ke kampung halamannya lalu memboyong keluarga sekalian motornya ke Timika.

Ia memutuskan mengontrak kamar di belakangan Jayanti Rp300 ribu per bulan.

Sebagai buruh bangunan, ia merasa penghasilannya tak cukup. Bermodal motor, sebelum pergi dan sepulang kerja ia menyempatkan diri narik ojek.

Pekerjaan keduanya adalah petani. Ia bergabung di Kelompok Tani Makmur Jaya bersama 19 petani lainnya. Skill bertaninya tak diragukan lagi. Di kampungnya, Kuslan gemar bertani.

Bertolak dari situ, ia mulai gelisah. Sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Papua belum dikembangkan selayaknya.

Kuslan mulai atur siasat. Ia mengusulkan pengadaan mesin penggiling sagu ke Dinas Pertanian Provinsi Papua yang diteruskan ke pemerintah pusat.

Akhirnya pada tahun 2018, Kuslan mendapat bantuan Rp200 juta. Uang inilah yang ia pakai membeli dua mesin penggiling sagu dari Jawa. Sisa uangnya buat membangun rumah produksi yang kala itu masih ala kadarnya.

Ia melihat potensi sagu di Mimika sangat besar, sehingga pengolahan dari pohon menjadi tepung sagu harus cepat.

Cara tradisional yang digunakan masyarakat menurutnya makan waktu dan hasilnya pun tak banyak. Dengan mesin, sehari bisa menghasilkan sekitar 15 quintal tepung sagu dari tiga pohon.

“Saya ingin hidup orang Papua yang memiliki banyak sagu dan menjadikan sagu sebagai makanan pokok itu hidupnya gak repot, gak susah. Saya lihat orang hidupnya mangkur-mangkur itu saya menangis. Zaman sudah moderen tapi mereka masih mengolah sagu dengan cara tradisional. Bikinnya capek dan hasilnya hanya sedikit saja,” katanya saat ditemui Papua60detik, Minggu (23/5/2021).

Ia mengatakan pola pikir masyarakat harus berubah seiring perkembangan zaman. Kecanggihan teknologi mesti dimanfaatkan.

Dengan pabrik sagunya, masyarakat tidak lagi perlu berlelah-lelah mengolah sagu menjadi tepung. Mereka tinggal datang membeli langsung di tempat produksi CV Makmur Jaya di Jalan Hasanuddin untuk dijual kembali di pasar.

Satu karung ukuran 15 kilogram Kuslan jual dengan harga Rp100 ribu.

“Sehari itu bisa kita dapat jutaan,” katanya.

Masyarakat tetap jadi produsen, sebagai petani sagu. Kuslan membeli satu pohon sagu Rp100 ribu.

Selain menyediakan tepung sagu basah, Kuslan juga menyediakan tepung sagu kering. Tepung sagunya tak hanya dipasarkan di Timika saja, tetapi juga sudah dikirim ke Jawa.

Ia berharap pemerintah bisa mengembangkan sagu dan makanan pokok masyarakat Papua lainnya seperti petatas dan keladi.

Pemerintah harus turun tangan memberikan bantuan yang bisa dikembangkan, bukan uang. Bantuan uang, bagi Kuslan, bisa habis hanya dalam sekejap.

Kuslan mengaku siap membantu pemerintah membina masyarakat, membagi pengetahuan yang ia punya.

“Saya terbuka jadi orang. Saya tidak mengejar harta, kekayaan yang melimpah. Saya cita-cita supaya Papua bisa bangkit. Ada pabrik gula pasir, menghasilkan gula merah, tanam singkong. Daripada tanam padi gak jadi toh, kasihan masyarakat. Uang keliaran dari pusat. Triliun untuk membangun bendungan irigasi sia-sia. Diubah saja sikapnya,” tuturnya. (Anti Patabang)