Dinkes Mimika Latih Tim Penanganan Stunting Puskesmas dan Rumah Sakit
Papua60detik - Selama empat hari (15-18 Juli 2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar pelatihan tata laksana stunting bagi tim penanganan stunting dari 26 Puskesmas dan tiga rumah sakit rujukan (RS Waa Banti, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), dan RSUD Mimika.
Peserta kegiatan adalah dokter, nutrisionis atau petugas gizi, serta perawat atau bidan yang menangani Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di masing-masing puskesmas dan rumah sakit.
Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati, mengatakan stunting masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Mimika. Berdasarkan data rutin dari Puskesmas dan Posyandu, persentase stunting hanya sekitar 9,7 persen, tetapi angka absolutenya cukup tinggi.
"Jumlah balita di Kabupaten Mimika itu 10 persen dari jumlah penduduk yang kurang lebih 320 ribu jiwa. Sehingga kalau 9,7 persen dari jumlah itu, sekitar 2 ribu lebih. Jadi angka absolutenya tinggi," ujar Hasmawati saat diwawancarai.
Berdasarkan jumlah kasus, Puskesmas Wania menjadi wilayah dengan jumlah balita stunting terbanyak, disusul Puskesmas Timika. Namun, tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh banyaknya jumlah balita di wilayah perkotaan sehingga persentasenya relatif lebih kecil.
Sebaliknya, di sejumlah wilayah pesisir dan pegunungan terdapat Puskesmas yang memiliki persentase stunting lebih tinggi, tetapi jumlah balitanya lebih sedikit.
"Jadi teman-teman melakukan pendampingan, tidak menunggu balita itu stunting dulu. Kalau berat badan balita tidak naik, itu perlu dirujuk ke dokter untuk melihat ada masalah apa yang perlu ditangani," terangnya.
Katanya, anak yang mengalami stunting sering kali tampak sehat bahkan memiliki tubuh yang terlihat gemuk. Namun, dampak jangka panjangnya dapat memengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, hingga kemampuan belajar anak di kemudian hari. Untuk itu, penilaian stunting tetap mengacu pada indikator tinggi badan menurut umur yang ditetapkan oleh Kemenkes.
Hasmawati menjelaskan, penanganan stunting yang ditekankan pada pelatihan ini adalah secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga tata laksana kasus sesuai standar. Katanya, penanganan kasus stunting itu tidak dimulai hanya dari balita atau ibu hamil, tapi bermula dari remaja putri.
"Stunting ini latar belakangnya itu ada masalah gizi yang berkepanjangan mulai dari ibunya waktu remaja kemudian dia masuk di masa kehamilan. Kehamilannya dia KEK, kurus, kemudian kita tahu juga di sini penyakit infeksi banyak, seperti malaria," pungkasnya. (Martha)