Ini Curhat Rindu Karyawan Freeport Setelah Berbulan-bulan Tertahan di Tembagapura
Papua60detik - Sudah tiga kali karyawan PT Freeport Indonesia (PT FI) berunjuk rasa di Tembagapura. Aksi pertama dan kedua tak ada hasil. Senin (24/08/2020) lalu, untuk ketiga kalinya para karyawan menggelar unjuk rasa. Mereka nekat memblokade jalan dan dan memblokir akses operasi tambang di mile point 72, Ridge Camp, Tembagapura.
Lantas apa yang membuat para karyawan bersikeras, bertahan hingga berhari-hari pada aksi unjuk rasa ketiga ini?
"Hanya satu kata, rindu. Itu yang membuat kami bertahan untuk demo sampai dijawab. Kami juga manusia jadi kami tahu rasa rindu itu berat. Kami ingin melepas rindu dengan orang tersayang. Itu kekuatan kami, rindu," demikian curahan hati seorang karyawan yang meminta nama dan inisialnya tak disebutkan di dalam berita.
Karyawan berunjuk rasa menuntut Manajemen PT FI mengoperasikan kembali bus Shift Day Off (SDO) dan memberi insentif karena telah bekerja normal bahkan di masa pandemi covid-19.
Di Timika, bus SDO ini juga disebut bus 'kerinduan'. Frasa 'kerinduan' dilekatkan karena bus inilah yang rutin mengangkut karyawan dari Tembagapura turun ke Timika melepas rindu bersama keluarga. Setiap hari sekitar 700 sampai 800 karyawan bisa turun ke Timika menggunakan bus 'kerinduan' ini.
Tapi itu cerita dulu, sebelum pandemi covid-19. Karena pandemi yang tak pasti kapan berakhirnya ini, Manajemen PT FI menonaktifkan bus SDO. Akibatnya pasti, karyawan yang sedang off tak lagi bisa turun ke Timika bertemu keluarga. Masa off terpaksa mereka habiskan di Tembagapura dengan menahan beban beratnya rindu.
"Pemalangan jalan tambang mile 72 itu puncak dari kekecewaan kami setelah beberapa kali kami melakukan aksi pemalangan. Tetapi setiap tim yang ditunjuk mewakili karyawan untuk bicara pasti hasilnya nihil dan tidak dijawab pihak manajemen makanya kami sebut ini aksi spontanitas dan semua pekerja jadi pemimpin untuk dirinya sendiri dengan tetap pada satu tujuan, bus kerinduan dinormalkan kembali," katanya.
Menurutnya, ada hal janggal dalam upaya pengendalian covid-19 di Kabupaten Mimika. Pasalnya, di Kota Timika sendiri penerapan protokol kesehatan terkesan longgar. Tapi hal berbeda diberlakukan bagi para karyawan di Tembagapura.
Ditambah lagi katanya, karyawan dari luar Timika leluasa masuk dan keluar area kerja dari daerah asalnya. Sementara mereka yang satu kabupaten dipersulit.
"Kadang ada celotehan kecil dari mulut kami, masak di Timika bar diskotik sudah dibuka, kenapa kita masih dikurung di Tembagapura. Itu yang membuat kami sangat kesal," tutur karyawan ini.
Rabu (26/08/2020), karyawan sudah menyampaikan aspirasi kepada anggota DPRD Mimika dan Manejemen PT FI. Karyawan konsisten dalam aspirasinya, yaitu bus SDO normal untuk schedule 5:2 dan 5:3 dengan hanya pengecekan suhu tubuh saat melakukan boarding. Kebijakan itu pun tuntut karyawan, harus tertulis di jalur informasi resmi PT FI.
"Kenapa kami tidak sepakat dengan kuota penumpang 200 orang karena itu kuota cuti, bukan day off Timika tapi cuty lokal ke Timika, makanya kami bersikeras juga. Tuntutan kami harus dipenuhi sebab selama masa pendemi covid-19 kami bekerja normal dan produksi sangat lancar," ungkapnya.
Menanggapi tuntutan karyawan tersebut, VP Corporate Communications PT FI, Riza Pratama mengatakan, perusahaan memberlakukan protokol kesehatan yang ketat demi kesehatan dan keselamatan karyawan, keluarga dan komunitas.
"Pemda dan perusahaan sudah sepakat untuk memenuhi aspirasi karyawan selama sejauh protokol kesehatan masih terjaga. Permintaan bus karyawan dengan kondisi yang diminta tidak sesuai dan membahayakan kesehatan karyawan sendiri," katanya melalui pesan WhatsApp.
Dalam press rilis sebelumnya, Riza menyebut tiga poin hasil pertemuan Manajemen PT FI dengan Bupati dan Forkopimda Kabupaten Mimika dalam Rapat Tim Pokja covid-19 untuk menjawab tuntutan karyawan.
Poin pertama, para karyawan PT FI dari Tembagapura yang akan libur atau off dapat turun ke Kota Timika cukup dengan melakukan test RDT atau rapid test. Tidak lagi PCR sebagaimana protokol sebelumnya. Saat tiba di Terminal Gorong-Gorong hanya dilakukan protokol pengecekan suhu
Poin kedua, dalam waktu enam minggu, sebanyak 4.800 karyawan yang sejak April 2020 belum berkesempatan cuti akan diberikan prioritas untuk didaftarkan dalam pengaturan penyesuaian jadwal cuti dan rotasi.
Pada poin terakhir, PT FI setuju memberikan apresiasi kepada para karyawannya yang tetap menjaga produktivitas dan keberlanjutan produksi yang aman selama masa pandemi covid-19. (Joe Situmorang)