Ini Profil Negara Semifinalis Piala Dunia 2026
Papua60detik - Piala Dunia 2026 menyisakan empat negara yang pernah mengangkat trofi, yakni Prancis, Spanyol, Inggris, dan juara bertahan Argentina.
Prancis akan menghadapi Spanyol pada semifinal pertama, sedangkan Argentina berjumpa Inggris pada pertandingan empat besar lainnya.
Keempat tim melaju dengan karakter berbeda, mulai dari keseimbangan permainan Prancis, pertahanan kokoh Spanyol, ketangguhan Inggris, hingga daya juang Argentina.
Berikut profil empat semifinalis Piala Dunia 2026, berdasarkan laman FIFA seperti dilansir ANTARA.
Prancis
Prestasi terbaik di Piala Dunia: Juara 1998 dan 2018.
Jalur menuju semifinal: Menang 3-1 atas Senegal (Grup I); menang 3-0 atas Irak (Grup I); menang 4-1 atas Norwegia (Grup I); menang 3-0 atas Swedia (32 besar); menang 1-0 atas Paraguay (16 besar); menang 2-0 atas Maroko (perempat final).
Penampil terbaik: Kylian Mbappe, delapan gol dan tiga assist.
Prancis berpeluang mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kali secara beruntun setelah menjadi juara pada 2018 dan finis sebagai runner-up pada 2022.
Sebelumnya, hanya Jerman Barat pada 1982, 1986, dan 1990 serta Brasil pada 1994, 1998, dan 2002 yang menembus tiga final berturut-turut.
Les Bleus menjadi satu-satunya semifinalis yang memenangi seluruh enam pertandingan tanpa membutuhkan perpanjangan waktu.
Pasukan Didier Deschamps mencetak 16 gol, hanya kebobolan dua kali, dan selalu mencatat clean sheet dalam tiga laga fase gugur.
Kekuatan Prancis terletak pada keseimbangan antarlini serta ketajaman Mbappe dan Ousmane Dembele.
Keduanya telah menghasilkan 13 gol, masing-masing delapan dan lima gol, sekaligus menjadi pasangan pertama sejak Ronaldo dan Rivaldo bersama Brasil pada 2002 yang sama-sama mencetak sedikitnya lima gol dalam satu edisi Piala Dunia.
Meski demikian, kemenangan tipis 1-0 atas Paraguay menunjukkan Prancis dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi lawan yang bertahan rapat dan membatasi ruang di sekitar kotak penalti. Mereka baru memecah kebuntuan melalui penalti Mbappe pada babak kedua.
Spanyol
Prestasi terbaik dalam Piala Dunia: Juara 2010.
Jalur menuju semifinal: Imbang 0-0 dengan Tanjung Verde (Grup H); menang 4-0 atas Arab Saudi (Grup H); menang 1-0 atas Uruguay (Grup H); menang 3-0 atas Austria (32 besar); menang 1-0 atas Portugal (16 besar); menang 2-1 atas Belgia (perempat final).
Penampil terbaik: Mikel Oyarzabal, empat gol dan satu assist.
Spanyol kembali ke semifinal untuk pertama kali sejak menjuarai Piala Dunia 2010. La Roja bangkit setelah ditahan tim debutan Tanjung Verde pada laga pembuka dengan memenangi lima pertandingan berikutnya.
Pertahanan menjadi kekuatan utama pasukan Luis de la Fuente. Spanyol hanya kebobolan satu gol dalam enam pertandingan, yakni saat menang 2-1 atas Belgia pada perempat final, sementara kemampuan mengendalikan permainan membuat lawan tidak memperoleh banyak kesempatan.
Kedalaman skuad juga menjadi senjata penting. Mikel Merino mencetak gol kemenangan setelah masuk sebagai pemain pengganti ketika menghadapi Portugal dan Belgia.
Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol kemenangan sebagai pemain pengganti pada dua pertandingan fase gugur berbeda dalam satu edisi.
Kelemahan Spanyol terletak pada efektivitas penyelesaian akhir. La Roja ditahan tanpa gol oleh Tanjung Verde serta hanya menang dengan selisih satu gol atas Uruguay, Portugal, dan Belgia meski mampu menguasai jalannya pertandingan.
Inggris
Prestasi terbaik dalam Piala Dunia: Juara 1966.
Jalur menuju semifinal: Menang 4-2 atas Kroasia (Grup L); imbang 0-0 dengan Ghana (Grup L); menang 2-0 atas Panama (Grup L); menang 2-1 atas Republik Demokratik Kongo (32 besar); menang 3-2 atas Meksiko (16 besar); menang 2-1 atas Norwegia setelah perpanjangan waktu (perempat final).
Penampil terbaik: Jude Bellingham, enam gol.
Inggris mencapai semifinal Piala Dunia untuk keempat kalinya setelah 1966, 1990, dan 2018. Three Lions menjaga peluang mengakhiri penantian selama 60 tahun sejak menjadi juara di kandang sendiri.
Bellingham dan Harry Kane menjadi sumber gol utama Inggris dengan masing-masing mencetak enam gol. Keduanya menghasilkan 12 dari total 13 gol tim asuhan Thomas Tuchel sepanjang turnamen.
Mentalitas dalam menghadapi tekanan menjadi salah satu kekuatan Inggris. Mereka mampu bangkit dari ketertinggalan untuk menyingkirkan Republik Demokratik Kongo dan Norwegia serta mempertahankan keunggulan atas Meksiko meski bermain dengan 10 orang sejak menit ke-54.
Namun, konsistensi permainan masih menjadi persoalan. Inggris telah kebobolan enam gol dan beberapa kali memberi lawan peluang untuk kembali ke pertandingan.
Tuchel juga mengakui timnya melakukan banyak kesalahan teknis dan bermain kurang cepat ketika menyingkirkan Norwegia.
Argentina
Prestasi terbaik dalam Piala Dunia: Juara 1978, 1986, dan 2022.
Jalur menuju semifinal: Menang 3-0 atas Aljazair (Grup J); menang 2-0 atas Austria (Grup J); menang 3-1 atas Yordania (Grup J); menang 3-2 atas Tanjung Verde setelah perpanjangan waktu (32 besar); menang 3-2 atas Mesir (16 besar); menang 3-1 atas Swiss setelah perpanjangan waktu (perempat final).
Penampil terbaik: Lionel Messi, delapan gol.
Argentina tinggal dua kemenangan lagi untuk menjadi negara pertama yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962.
Albiceleste juga selalu menang dalam enam pertandingan, meski membutuhkan perpanjangan waktu untuk melewati Tanjung Verde dan Swiss.
Messi tetap menjadi pusat permainan pada penampilan Piala Dunia keenamnya. Pemain berusia 39 tahun itu telah mencetak delapan gol dan bersaing dengan Mbappe di posisi teratas daftar pencetak gol.
Ia juga memberikan umpan dari sepak pojok yang dituntaskan Alexis Mac Allister untuk membuka keunggulan atas Swiss.
Produktivitas dan mentalitas menjadi kekuatan Argentina. Tim asuhan Lionel Scaloni mencetak 17 gol, terbanyak di antara empat semifinalis, serta mampu bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk menundukkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar.
Lini pertahanan menjadi bagian yang perlu dibenahi. Argentina kebobolan lima gol dalam tiga pertandingan fase gugur dan dua kali harus bermain sampai perpanjangan waktu.
Kondisi tersebut menunjukkan sang juara bertahan dapat ditekan ketika lawan bisa melewati tekanan awal dan menyerang dengan cepat. (Redaksi)