Jenazah Ikbal, Korban Rusuh Dogiyai Dipulangkan ke Kampung Halaman
Pemberangkatan jenazah Ikbal, korban kericuhan Dogiyai di Bandara Mozes Kilangin, Senin (14/11/2022). Foto: Istimewa
Pemberangkatan jenazah Ikbal, korban kericuhan Dogiyai di Bandara Mozes Kilangin, Senin (14/11/2022). Foto: Istimewa

Papua60detik - Jenazah Ikbal, korban kericuhan di Kabupaten Dogiyai telah diberangkatkan ke kampung halamannya di Desa Benteng, Kecamatan Segeri, Kabupaten  Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (14/11/2022).

Jenazah diterbangkan dari Kabupaten Nabire menggunakan pesawat Wings Air PK-WHM (IW 1609) kemudian transit di Kabupaten Mimika. Setiba di  Timika, jenazah kemudian dipindahkan ke pesawat Lion Air PK-LGK tujuan Makassar. 

Pemberangkatan jenazah Ikbal didampingi delapan orang kerabat dan keluarga.

Abdul Rasyid, ayah korban mengungkap kesedihannya. Ikbal kenangnya adalah anak baik dan penurut tapi meninggal dengan cara dibunuh.

Almarhum katanya, dituding sebagai pelaku atau sopir yang menabrak dan menewaskan anak berusia 5 tahun. 

Massa yang marah kemudian sweeping di setiap rumah warga dan melihat korban melompat pagar dan mengejarnya.

Rasyid mengungkap, anaknya dianiaya sampai meninggal. Jasadnya lalu disembunyikan dengan cara dikubur tak wajar di sekitar rumahnya. 

Barang-barang pribadi miliknya yakni beberapa unit handphone pun diambil. 

Setelah dua hari dilakukan pencarian, jasad Ikbal akhirnya ditemukan. Terdapat sejumlah luka diduga akibat benda tumpul dan benda tajam. 

"Motor saya juga dibakar. Jenazah anak saya ditemukan setelah dua hari," ujar Rasyid. 

Sementara itu, paman korban Abdullah Sanaki menegaskan bahwa keponakannya itu bukanlah sopir maupun rombongan truk yang menabrak anak kecil yang jadi pemicu kerusuhan.

"Bukan. Dia swasta, kadang-kadang ikut sama bapaknya," ujarnya.

Ia berharap agar para pelaku segera diproses hukum. Pasalnya, sebelum ditemukan tewas, beredar foto almarhum   Ikbal bersimbah darah. Beberapa orang diduga pelaku di foto itu memegang senjata tajam. 

"Ini biadab ini. Kenapa harus dibegitukan?. Diculik, dianiaya, apalagi dikubur seperti itu," katanya. (Amma)