John Gluba Kritisi Penutupan PT Harvest Fulus Papua, Mengapa?
Tokoh selatan Papua juga mantan Bupati Merauke (2000-2010), Johanes Gluba Gebze. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik
Tokoh selatan Papua juga mantan Bupati Merauke (2000-2010), Johanes Gluba Gebze. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik

Papua60detik - Tokoh selatan Papua juga mantan Bupati Merauke (2000-2010), Johanes Gluba Gebze angkat bicara soal penutupan PT Harvest Fulus Papua, sebuah perusahaan telur yang beroperasi di Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga. 

Perusahaan peternakan ayam petelur itu diketahui ditutup oleh Pemkab Merauke pada Senin (14/2/2022), menyusul protes keras masyarakat sekitar PT Harvest yang merasakan langsung dampak pencemaran udara dari aktivitas produksi perusahaan tersebut. 

John Gluba Gebze menyayangkan keputusan pemerintah daerah yang dinilai sepihak tersebut, dengan mengorbankan produsen telur lokal yang sudah membantu daerah dalam hal pasokan telur. 

Seharusnya, menurut John Gluba, sebelum ditutup, ada sebuah solusi bijaksana yang tidak merugikan para pihak, baik masyarakat maupun perusahaan.

"Provinsi Papua Selatan sudah mau dibentuk. Berbicara otonomi itu bicara soal kemandirian. Dalam hal apa kita sudah mandiri? Dulu telur saja masih didatangkan dari luar," kritik John Gluba, Selasa (15/2/2022). 

Untuk memenuhi kebutuhan di Merauke, ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu telur didatangkan dari Surabaya. Namun kini sudah ada produsen lokal yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Merauke dan kabupaten sekitarnya. 

"Kenapa ini tidak dijadikan aset dan didukung, sehingga kita semakin mandiri," ujarnya. 

Menurut dia, penutupan dan atau relokasi perusahaan tersebut bukan persoalan mudah. Harusnya dilakukan kajian holistik, sehingga tidak ada yang dirugikan dari kebijakan pemerintah itu. 

"Tidak bisa satu SKPD bertindak seakan menjadi superbody di lingkup pemerintah, itu salah. Berilah ruang untuk pihak swasta bertumbuh dan berkembang," ujarnya. 

Gluba mengakui, jika lahan yang dipakai oleh PT Harvest Fulus Papua untuk aktivitas perusahaan merupakan tanah milik marganya. 

Sebagai anak negeri, pihaknya telah memberi ruang bagi siapa saja untuk tumbuh dan berkembang dalam hal ekonomi serta ikut berkontribusi membangun daerah. 

"Kenapa kearifan besar orang Marind itu diusik. Harusnya para stakeholder bijak melihat hal ini," pungkasnya.

Untuk diketahui, penutupan PT Harvest Fulus Papua merupakan kesepakatan dalam rapat Dinas Lingkungan Hidup dengan warga Marga Mulya yang terdampak bau limbah perusahaan tersebut pada Senin kemarin.  (Eman Riberu)