Masuk Ranah Hukum, KONI Mimika Dampingi Kasus Penganiayaan Wasit Futsal
Papua60detik - Pemain Futsal Nusantara yang melakukan penganinayaan terhadap wasit, Marselus Kelanangame saat bertanding melawan tim futsal Amor, Sabtu (29/1/2022) telah dilaporkan ke pihak berwajib.
Saat memimpin pertandingan, Marselus dianiaya oleh beberapa pemain tim Nusantara. Ia dipukuli hingga mengakibatkan dagunya terluka, tenggorokannya sakit yang membuat ia susah menekan makanan.
“Kemarin sore saya sudah laporkan hal ini ke kantor polisi untuk membuat surat undangan untuk tim Nusantara. Besok Rabu kami diundang ke kantor polisi untuk membicarakan kejadian ini. Dan saya berharap mereka diberi sanksi sesuai aturan yang berlaku,” kata Marselus dalam konferensi pers di Kantor KONI Mimika, Senin (31/1/2022).
Ia menceritakan awal mula kejadiannya terjadi saat ia memberikan peringatan kepada pemain nusantara yang bermain kasar. Dan hal itu berulang kali dilakukan pemain Nusantara.
Marselus malah dianggap bukan wasit profesional dan tidak memiliki lisensi.
“Ada pemain yang bersuara bahwa saya itu punya lisensi apa? Saya dituduh belum punya lisensi. Dan saya kasih tahu dia supaya mengatur bicaranya karena saya turun bukan asal-asalan. Sesuai peraturan. Kalau saya tidak sesuai aturan baru boleh dikomentari,” tegasnya.
Padahal, Marselus adalah wasit dengan lisensi nasional. Ia terlibat aktif dalam penyelenggaraan pertandingan Futsal pada PON 2021 lalu.
Soal keputusannya yang diprotes pemain Nusantara, telah ia konsultasikan dengan rekan-rekannya. Kesimpulannya, secara aturan, keputusan Marselus sudah benar.
Atas tindak penganiayaan itu, kabarnya Tim futsal Nusantara ini kini telah didiskualifikasi dari turnamen yang digelar oleh DPPU Pertamina itu.
KONI Mimika pun sudah berikan pendampingan kepada Marselus melalui Bidang Hukum dalam proses pidana terlapor.
Sekretaris KONI Mimika, Cessar A Tunya mengaku sangat menyesalkan tindakan pemain Tim Nusantara.
“Ini saya sayangkan karena sebenarnya tidak boleh terjadi karena kejadiannya terjadi dalam permainan dan itu adalah mutlak kewenangan wasit. Itu yang saya sayangkan,” tuturnya.
Ia berharap kejadian ini tidak boleh lagi terjadi di semua cabang olahraga manapun. Olahraga harus menjunjung tinggi sikap fair play salah satunya dengan menghormati keputusan wasit.
Ketua Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Mimika, Elvry Leiwakabessy memastikan ikut mengawal proses hukum kasus ini.
Menurutnya, tindak penganiayaan yang dialami Marselus jelas masuk ranah pidana. Ketidakpuasan tim atas keputusan wasit, kata Elvry bisa dilaporkan ke AFK.
"Jika terbukti, kami juga bisa berikan sanksi ke wasit, misalnya dia berat sebelah. Sanksi berupa larangan memimpin pertandingan," jelasnya.
Terhadap kejadian yang menimpa Marselus, AFK Mimika akan berikan sanksi berupa larangan bermain kepada pemain yang terbukti melakukan pemukulan. Sementara pemain yang menunjukkan sikap arogan juga dipertimbangkan dapat sanksi. (Anti)