Menemukan Cahaya di Tempat Terdalam Perut Bumi Tembagapura
Papua60detik - Apa yang terbayang saat mendengar perjalanan bawah tanah? Sebagian pasti akan membayangkan sebuah kegelapan, sesak tanpa cahaya.
Namun, hal itu bukan seperti yang dibayangkan. Perjalanan sedalam 1700 meter di bawah permukaan tanah akan menjadi luar biasa saat kamu melengkapi diri dengan peralatan yang dipersiapkan oleh perusahaan dan mengutamakan safety.
Sejumlah awak media yang akan meliput puncak perayaan HUT PT Freeport Indonesia ke 57 di Tembagapura, pun ikut dalam perjalanan menuju tambang bawah tanah, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Sabtu (6/4/2024).
Lengkap menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), awak media baik cetak, online dan elektronik bergegas menuju lokasi menggunakan bus. Hadir dalam kegiatan tersebut Presdir PT Freeport Indonesia Tony Wenas bersama rombongan.
Tampak PTFI sangat memperhatikan keselamatan para karyawan maupun para pengunjung. Visitor yang akan melakukan perjalanan bawah tanah diwajibkan memakai belt yang terikat langsung dengan alat bantu pernapasan mandiri atau savox, serta helm yang dilengkapi dengan lampu bawah tanah.
Suasana yang gelap dan cuaca yang dingin tidak menyurutkan semangat para visitor yang diundang oleh PTFI dalam rangka menyambut hari ulang tahun perusahaan yang ke-57.
Adapun perjalanan menuju tambang bawah tanah membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan bus tambang. Sepanjang jalan tampak gelap, dinding tanah yang berbatu penuh misteri menemani perjalanan kita.
Suara bus tambang begitu berisik menyentuh permukaan tanah yang berkerikil mengalahkan gemericik air yang mengalir di sepanjang tepi jalan. Bising, tapi hal itu pasti akan menjadi suara yang dirindukan para pengunjung suatu hari nanti.
Perlu diingat belt dan savox yang kita gunakan beratnya kira-kira lima kilogram. Anda bisa bayangkan, ribuan karyawan yang kita banggakan harus menggunakan itu setiap harinya untuk menjaga keselamatan kerja.
Suasana gelap berubah menjadi terang yang menenangkan saat kita berhenti untuk singgah di bangunan gereja dan masjid. Masjid Baabul Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria yang berdiri berdampingan satu sama lain, dibangun pada tahun 2014 .
Kedua bangunan itu terletak di tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) elevasi 2500 mdpl dengan kedalaman 1.8 km di bawah permukaan tanah berjarak sekitar 4.4 km dari Portal AB tunnel. Masing-masing berkapasitas 200 orang dan telah diresmikan pada tahun 2015.
Selain itu tempat ibadah ini menjadi secercah cahaya di tengah kegelapan. Secercah cahaya yang dilirik dunia sehingga mendapakan rekor MURI pada tahun 2017 sebagai tempat ibadah yang dibangun di tempat terdalam perut bumi.
“Jadi, dua rumah ibadah ini tidak hanya unik, tetapi juga mencerminkan toleransi yang sangat tinggi yang didukung oleh perusahaan”.
Demikian disampaikan Tony Wenas, saat berbincang bersama karyawan dalam kunjungannya ke rumah ibadah di perut bumi Tembagapura, Gereja Oikumene.
Perjalanan bawah tanah berakhir di sini. Rombongan visitor kembali melewati terowongan menggunakan bus tambang menuju Gedung OB 4, Kantor pusat Tambang Bawah Tanah. (Martha)