Pedagang Daging Babi Merasa Dianaktirikan Pemkab Mimika
Papua60detik - Pedagang daging babi (B2) di Pasar Sentral Timika keluhkan tempat jualan atau lapak mereka yang tak kunjung diperbaiki Pemkab Mimika,
Aris, salah seorang pedagang B2 mengungkapan ia dan rekan-rekannya kerap basah kehujanan akibat atap yang bocor.
Terpal yang mereka upayakan sendiri tak banyak membantu saat hujan deras beserta angin
"Sampai sekarang ini dari berapa kepala dinas bilang mau bangun ini sudah dibongkar kita buat pribadi, dengan biaya sendiri. Hujan angin kita basah, minta tolong kami diperhatikan kami yang penjual daging babi ini kasian. Kami kalau hujan besar ini kasian, baru atap-atap suda bolong-bolong, belum pernah direnovasi," harap Aris yang sejak 2017 bejualan di Pasar Sentral
Pedang B2 membayar retribusi untuk seekor B2 sebesar Rp70 ribu. Aris mengungkapan sehari rata-rata bisa menjual dua ekor B2,
"Natal kemarin kami masing-masing bayar retribusi satu hari hampir Rp600 karena sekitar 5 sampai 8 ekor kami jual. Retribusinya besar tapi pemerintah tidak perhatikan (atap) itu juga," keluh Aris
Sementara itu pedagang lainya Markus Nempa menambahkan, pemerintah sudah menjanjikan untuk merenovasi atap, tapi hingga 2023 belum terealisasi.
"Masih bangunan lama. Janji mau dibangunkan tempat penjualan B2 yang baru sampai sekarang, sampai suda 2023 ini," Kata Markus yang telah berjualan B2 selama 20 tahun pindahan dari Pasar Lama.
Pedagang pun berinisiatif membangun sediri dengan bantuan dari dinas peternakan berupa semen dan pasir, pedagang memanfaatkan kayu-kayu dan atap bekas bangunan lama.
"Ini bekas tiang lama yang dibongkar yang kami gunakan kembali. Dinas peternakan membantu kami untuk lantainya dicor dan sejumlah kayu, namu kami sendri yang membangunnya," katanya.
Pedagang membandingkan tempat mereka dengan tempat jualan daging ayam yang menurut mereka sangat layak bahkan mendapatkan bantuan lemari pendingin
"Masa ayam punya di sana bagus mantap sekali fasilitasnya lengkap dengan lemari pendinginnya dibanding kami punya di sini kayak bangunan-bangunan kumuh saja. Kamar kecil pun kami buat darurat saja hanya untuk kencing karna toilet umum jaraknya agak jauh dari tempat kami berjualan," kata Markus. (Faris)