Pedagang di Pasar Sentral Bilang Harga Cenderung Naik, Pj Bupati Sebut Normal
Pedagang pasar Sentral Timika. Ecce Pairin. Foto: Eka/ Papua60detik
Pedagang pasar Sentral Timika. Ecce Pairin. Foto: Eka/ Papua60detik

Papua60detik - Salah satu pedagang di Pasar Sentral mengaku harga kebutuhan pokok saat ini relatif mahal. Harga cabai rawit bahkan tembus Rp100 ribu per kilogram. 

Ecce Pairin ditemui di lapaknya, Selasa (18/3/2025) mengaku harga kebutuhan mahal sejak seminggu lalu. 

"Tidak ada kiriman karena harga di luar juga mahal. Jadi harga di sini juga semua mahal. Sekarang saya jual cabai (rawit) ini Rp100 ribu. Sudah satu minggu ini, sebelumnya harga cabai Rp60 ribu," ujar Ecce.

Katanya, meski rata-rata mahal, namun pendapatannya justru mengalami kenaikan dibanding awal tahun. Kondisi itu yang masih membuat Ecce bertahan berjualan hingga malam hari. 

"Iya, karena pembeli juga lumayan meski apa-apa mahal. Kadang sampai jam 9 jam 10 malam saya baru tutup," katanya. 

Adapun harga bahan pokok saat ini, seperti bawang merah dan bawang putih Rp60 ribu. Cabai rawit, cabai keriting dan cabai merah besar Rp100 ribu. Tomat Rp30 ribu, Buncis Rp30 ribu, Wortel 35 ribu dan sayur kol Rp30 ribu. 

Jahe mengalami kenaikan hingga Rp80 ribu per kilogram, kentang Rp35 ribu dan daun bawang mencapai Rp70 ribu per kilogram. 

Pj Bupati Mimika Yonathan Demme Tangdilintin usai memantau harga di Pasar Sentral menyebut harga kebutuhan pokok normal. Jika ada kenaikan pada beberapa item, menurutnya hal wajar karena jelang hari raya. 

"Bagi kami ini suatu hal yang menenangkan juga. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir di Kabupaten Mimika ini stabilisasi barang dan jasa masih dalam kondisi normal," katanya.

Ia membandingkan dengan awal tahun 2025 di Januari, Mimika mengalami inflasi hingga 3,99 persen, masuk Februari, turun menjadi 1,56 persen. 

"Masuk Februari 1,56 kalau tidak salah. Nanti dicek di BPS. mungkin di bulan Maret ini naik lagi kita tahu ini suasana menjelang hari raya . Dan biasanya harga barang dan jasa naik itu hal yang normal," pungkasnya. (Eka)