Petani Merauke 'Teriak' Pupuk Kurang
Lahan pertanian di Distrik Tanah Miring Merauke. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik
Lahan pertanian di Distrik Tanah Miring Merauke. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik

Papua60detik - Petani di Kabupaten Merauke, Papua kembali 'berteriak' soal pupuk yang jatahnya kurang dan penyalurannya terlambat.

Pupuk bukan persoalan baru di kalangan petani Merauke. Ketersediaan penyubur tanaman ini kerap dikeluhkan setiap tahun, karena jatahnya kurang. 

Salah seorang petani di Kampung Waninggap Miraf, Distrik Tanah Miring, Frans mengatakan, pupuk yang dsalurkan pemerintah sangat terlambat, bahkan kuotanya tidak cukup. 

"Tiap tahun masalah yang kami hadapi itu terkait pupuk yang selalu kurang, lalu juga selalu terlambat dibagikan," kata Frans, Senin (28/2/2022). 

Ia meminta pemerintah, terutama instansi teknis mengatasi persoalan dimaksud, sehingga produktivitas lahan padi mereka lebih baik.

Hal senada diungkapkan Sumardino, petani dari Kampung Yabamaru, Distrik Tanah Miring. 

"Pupuk itu bukannya ditambah, malah sekarang berkurang," ujar Sumardino. 

Ia mengatakan, pupuk disalurkan pemerintah ketika padi sudah berusia 2 sampai 3 bulan. Seharusnya, pemupukan sudah harus dilakukan dua kali sebelum padi berusia sebulan. 

"Padi sudah tinggi, pupuk baru datang. Itu pun dua sak, mana cukup. Bagaimana hasil bisa baik kalau telat, dan kuotanya kurang," celetuknya. 

Selain pupuk, obat-obatan seperti pestisida juga menjadi persoalan di tingkat petani. Pestisida sangat dibutuhkan, terutama saat padi diserang hama. 

"Bicara pupuk itu sudah biasa, sudah sering disampaikan. Tapi yang belum pernah disampaikan oleh petani itu pestisida, obat-obatan," kata petugas PPL Tanah Miring, Sugiyanto kepada Papua60detik. 

Sugiyanto mengungkapkan, pestisida dulunya disubsidi oleh pemerintah, namun kini tidak lagi. Petani harus membeli obat hama tersebut secara mandiri. 

"Sekali beli pestisida, mereka keluarkan uang Rp500 ribu. Pas terserang hama, baik kalau dia punya uang, tapi kalau tidak?" katanya. 

Ia menambahkan, ada bantuan pestisida dari Dinas Pertanian setempat, tapi jumlahnya tidak cukup dengan kebutuhan yang diperlukan. 

"Kita tentu harapkan pemerintah membantu petani dengan kembali memberikan subsidi obat hama," imbuhnya. (Eman Riberu)