Produksi Stabil, Kenapa Harga Telur Lokal Naik?
Kepala Disnakeswan Mimika, drh Sabelina Fitriani. Foto: Martha/ Papua60detik
Kepala Disnakeswan Mimika, drh Sabelina Fitriani. Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Produksi telur di Kabupaten Mimika menurut Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan)  stabil, mencapai 13 ton per hari. 

Kepala Disnakeswan Mimika, drh Sabelina Fitriani mengatakan, tidak terjadi kekurangan pasokan telur di Timika. Bahkan, saat ini Kabupaten Mimika masih mampu mengirimkan telur ke kabupaten tetangga.

"Produksi kita per hari 13 ton, itu konsisten. Sedangkan kebutuhan konsumsi warga Mimika itu 11 ton, jadi masih ada spare dua sampai tiga ton. Itu yang kita kirimkan ke Kabupaten tetangga," ujarnya, Senin (18/03/2024).

Namun, saat ini di tengah produksi yang mencukupi dan stabil harga telur justru naik. Menanggapi hal itu, Disnakeswan mengatakan kenaikan harga itu merupakan isu nasional karena sulitnya  ketersediaan jagung untuk pembuatan pakan ternak ayam.

"Sementara ini ketersediaan jagung dalam negeri itu terbatas. Padahal, jagung itu  kebutuhannya tinggi terhadap pakan, karena kebutuhannya 50 persen dari pakan," tambahnya.

Sulitnya produksi jagung di dalam negeri sangat berdampak hingga membuat distribusi pakan ke Indonesia Timur berkurang, padahal kebutuhan pakan di Mimika itu sebenarnya tinggi.

"Ini sama dengan hukum pasar, iya. Pada saat supplynya berkurang otomatis harganya meningkat," pungkasnya. (Martha)