Sebab Apa Antrean Panjang di SPBU Timika?
Papua60detik - Antrean panjang kendaraan di semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Timika yang terus berlangsung, membuat Pertamina Marketing Operasional Regional (MOR) VIII wilayah Maluku dan Papua angkat bicara.
Unit Manager Communication dan CSR Pertamina Regional Papua Maluku, Edi Mangun geram, pasalnya banyak orang menganggap jika antrean panjang terjadi karena Pertamina tidak menyalurkan pasokan sesuai kebutuhan warga Timika.
Edi membantah jika ini terjadi karena kelangkaan BBM, tetapi ada yang sengaja menimbun.
Ia menjelaskan, BBM yang disalurkan ke setiap SPBU sudah sesuai dengan kebutuhan kendaraan. Selalu sama dengan kuota-kuota sebelumnya.
“Kenapa kemudian kami atur itu ke SPBU, karena di luar itu banyak orang membeli dengan jerigen. Artinya bahwa itu ada penimbunan. Jadi tolong sekali lagi tidak ada kelangkaan. Tidak ada kelangkaan,” tegasnya saat dihubungi Papua60detik.id, Senin (16/8/2021).
Dari pantauan lapangan, di antara antrean panjang, masih ada warga yang membeli BBM dalam jumlah yang besar menggunakan jerigen.
“Kami kirim ke SPBU itu berdasarkan pengamatan. Berapa jumlah. Misalnya 16 KL sehari. Atau 10 KL untuk satu SPBU. Karena kalau kita kirim lebih, kasihan. Teman-teman SPBU itukan tidak bisa membatasi karena mereka diintimidasi dimaki-maki,” ungkapnya.
Ia pun mempertanyakan apa tujuan masyarakat membeli BBM dalam jumlah yang banyak.
Hal ini lanjut Edi yang seharusnya diselidiki tim terpadu pengawasan BBM dari Pemerintah Daerah, TNI-Polri dan Kejaksaan. Menurutnya ini sudah masuk tindakan melanggar hukum cuma selalu dibiarkan.
“Jika ada hal-hal yang berpotensi penyalahgunaan itu sudah masuk ranah hukum. Begitu,” ujarnya
Ia menjelaskan jika Pertamaina hanya bertanggung jawab menyalurkan BBM ke SPBU sesuai kebutuhan. Pengawasannya dilakukan oleh tim terpadu.
“Ini mungkin nanti teman-teman bisa mengimbau, melihat kondisi ini, harusnya sudah ditelusuri kemana perginya BBM yang dibeli menggunakan jerigen dan menggunakan kendaraan. Inikan baru yang di jerigen, kita belum tahu apakah ada juga tanki modifikasi,” harapnya.
Ia yakin jika orang yang terus-terusan menyalahkan Pertamina dalam antrean panjang ini adalah mereka yang terlibat melakukan penimbunan.
“Ini yang dilakukan kemudian dimana-mana orang berteriak, Pertamina katanya membatasi premium , pertalite. Padahal sebenarnya kita mengirim sesuai dengan kebutuhan. Dan siapa yang berteriak? Yang berteriak ini kebanyakan mereka-mereka yang bermain,” tutupnya. (Anti Patabang)