Sekolah di Merauke Diserang, Ijazah Dirusak, Polisi Lamban Bertindak
Papua60detik – SMP dan SMA Satu Atap Kampung Wasur, Mearauke Papua Selatan jadi sasaran serangan brutal pada Kamis (15/5/2025). Sekelompok massa mengamuk, merusak fasilitas sekolah, menjarah makanan asrama, dan bahkan memotong-motong ijazah siswa yang disimpan di ruang guru.
Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, mengungkapkan kronologi peristiwa itu usai menerima laporan dari 13 guru korban kekerasan pada Senin (19/5/2025).
Menurutnya, kekerasan dipicu oleh seorang siswa dalam kondisi mabuk yang memecahkan kaca sekolah. Ketika aksinya dihentikan oleh penghuni asrama, ia dipukul dan lari pulang—lalu kembali bersama keluarganya dalam empat mobil dan langsung menyerang sekolah.
“Kepala asrama saat itu tidak ada di tempat. Ia sempat menelepon Polres dan kembali ke lokasi, tapi justru dikejar massa. Ia hanya sempat menyelamatkan dua siswi,” jelas Paskalis, Rabu (21/5/2025).
Ironisnya, aparat kepolisian baru tiba sekitar pukul 23.00 WIT—berjam-jam setelah insiden. Hingga kini, tak ada olah TKP, pendataan kerusakan, atau penangkapan pelaku. Laporan lanjutan dari pihak sekolah juga tak ditindaklanjuti serius.
“Ini kriminal murni, tapi polisi malah mendorong penyelesaian kekeluargaan. Ini bentuk kelalaian serius,” tegas Paskalis.
Kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta. Namun Paskalis menekankan, kerusakan mental siswa jauh lebih parah.
“Ijazah bisa dicetak ulang, bangunan bisa dibangun kembali. Tapi trauma anak-anak? Itu luka paling dalam,” ujarnya.
Ia menuntut Kapolres Merauke membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Paskalis juga mendesak agar aparat yang lalai turut diperiksa.
“Jangan ada kesan pembiaran. Presiden dan Kapolri sudah tegas: premanisme harus diberantas, siapa pun pelakunya,” pungkasnya. (Jamal)