Sikap Tak Kooperatif Warga Hanya Memperburuk Penanganan Covid-19
Papua60detik - Banyak muncul pertanyaan, kenapa pandemi covid-19 begitu sulit dikendalikan di Indonesia?
Benar bahwa covid-19 begitu cepat menular dan fasilitas kesehatan khususnya alat pemeriksaan real time PCR masih terbatas dan belum merata di semua wilayah.
Di luar faktor teknis di atas, bagaimana warga menyikapi pandemi ini punya efek yang tak kecil. Sikap denial atau menyangkal dan perilaku tidak kooperatif warga memperburuk keadaan.
Direktur RSMM Timika, dr Theresia Nina Noviriana mengungkap, dalam banyak kasus, waktu dan energi tenaga kesehatan tersita ketika harus berurusan dengan pasein dan keluarga yang tak kooperatif.
"Mau diisolasi saja sudah resistensi. Padahal yang kita pikirkan kan untuk keselamatan dia sendiri dan keluarga sekitar. Belum lagi keyakinan masyarakat, nggak akan kena covid. Belum lagi paham-paham lain. Terus keluarga tidak kooperatif, kasar dengan petugas. Itu kan sudah menguras energi," ungkapnya, Selasa (22/09/2020).
Kasus paling umum terjadi, yaitu pasien menolak diisolasi ketika hasil rapid testnya reaktif atau bahkan hasil pemeriksaan PCR-nya sudah positif.
Isolasi mandiri memang bisa jadi pilihan tapi hanya ketika yang bersangkutan tanpa gejala, ia dan keluarga disiplin dengan protokol kesehatan dan ruangan di rumahnya memungkinkan.
"Kalau memang tidak bisa, masuklah ke shelter selama ada slot di sana. Itu sudah memutus rantai penularan. Jangan lagi pakai acara resistensi, provokasi. Itu menyulitkan semua orang," pesan dr Nina.
Belum lagi tuduhan macam-macam yang diterima tenaga kesehatan. Misalnya beredar isu, pihak rumah sakit dituding mengambil keuntungan dari setiap penambahan pasien covid-19 dan atau memanipulasi data pasien.
Meski tak benar, tudingan menyakitkan semacam itu jelas mempengaruhi psikis, mental tenaga kesehatan terutama mereka yang bersentuhan langsung dengan pasien di garda kuratif.
Padahal betapa besar risiko yang harus ditanggung tenaga kesehatan dalam mengendalikan pandemi ini. Tak sedikit tenaga kesehatan meninggal dunia karena ikut terpapar covid-19 ketika merawat pasien.
"Tidak sebanding dengan risiko yang kami alami. Sudah tahu kan, berapa tenaga kesehatan yang meninggal di Indonesia, tertinggi se Asia Tenggara dan mungkin se Asia. Anda pikir mencetak tenaga kesehatan itu mudah dan murah?" katanya.
PB Ikatan Dokter Indonesia mencatat, per 10 September saja sudah 109 tenaga dokter yang meninggal dunia karena berjibaku menangani pasien covid-19. Belum profesi tenaga kesehatan lainnya.
Dan tak sedikit tenaga kesehatan yang tak bisa bertemu keluarga dalam rentang waktu cukup lama. Dari mereka ada yang harus ikut diisolasi karena terpapar virus dari pasien.
Apalagi memasuki September ini, ketika tambahan pasien dan angka kematian covid-19 melonjak. Klaster penularan muncul sporadis dan di Timika. Saat inu d area lowland Timika hanya ada dua rumah sakit tipe C yang terlibat dan bekerjasama menangani pasien covid-19, RSUD Mimika dan RSMM. Bisa dibayangkan, bagaimana tingkat kelelahan tenaga kesehatan.
Per 22 September, RSMM sedang merawat inap 17 pasien terkait covid-19. 12 pasien di antaranya terkonfirmasi positif covid-19.
Sudah empat pasien covid-19 meninggal di RSMM selama September. dr Nina mengatakan, mereka yang meninggal ini, datang ke rumah sakit dalam kondisi sakit berat, komorbidnya banyak dan sudah harus dibantu ventilator. Rata-rata mereka tak sampai seminggu dirawat.
Dalam situasi yang sudah terbatas, RSMM mesti berbagi fokus, pasien non covid-19 tak boleh tak tertangani, khususnya masyarakat tujuh suku di Mimika.
"Yang berat di kami itu dokter, spesialis dan perawat. Nyaris tidak ada istirahat. Untuk pelayanan normal saja tenaganya pas-pasan. Kami tetap menjadwalkan cuti rutin, dua hari tiga hari seminggu di cicil bergilirian. Pokoknya harus istirahat, buat imun dan mental. Cuma yang susah memang di dokternya karena terbatas," katanya.
Bagi dr Nina, tenaga kesehatan prinsipnya tak perlu perlakuan istimewa. Mereka hanya ingin dihargai, tak dikasari dan warga lebih kooperatif.
"Kami juga pengen pulang kok, kami juga ingin istirahat dari situasi ini, jadi tolong kooperatif. Mungkin pemerintah atau aparat lebih tegaslah," harapnya. (Burhan)