Teh Acanthus, Produk Hutan Asli Mimika Mulai Diminati
Produk Teh Acanthus. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik
Produk Teh Acanthus. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik

Papua60detik - Selama empat bulan Yayasan Ekologi Sahul Lestari mendampingi Kelompok Pigapu Aimaporamo mengembangkan Teh Acanthus atau Teh Mangrove produk hutan bukan kayu Mimika.

Anggotanya kelompok ini beranggotakan Mama-Mama Papua. Mereka didampingi selama empat bulan dengan tahapan pembangunan rumah produksi, menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah.

"Jadi kami hanya pendampingan, fokus di teh, kami sudah pasarkan di PON Mimika dan Provinsi, kerja sama dengan CDK. Pendanaannya kami dipercaya dari Bank Papua. Produk teh ini kami sudah urus izin edar hingga PIRT nya, jadi sudah ada semua, waktu PON itu akhirnya kami berani untuk pasarkan," kata Koordinator program kegiatan Desa Berinovasi Kabupaten Mimika Simon Perez yang juga perwakilan dari Yayasan Ekologi Sahul Lestari, Jumat (19/11/2021).

Animo peminat teh lumayan banyak, bahkan atlet-atlet saat PON juga menyukainya.

Simon mengklaim jika teh tersebut mengandung antioksidan yang baik untuk mengurangi efek negatif dari rokok bagi perokok berat.

"Teh memang paling laku, dan dominan terjual, kami optimis sekali, sampai target itu kami kerja sama untuk pemasaran secara online. Hasil penjualan sejauh ini kami berhasil menjual 103 kilogram teh dengan hasil 20 jutaan lebih. Selain itu mama Berlina yang menderita penyakit gula itu bersih luka-lukanya setelah minum teh ini," kata Simon.

Produk teh mangrove ini telah melewati proses penelitian dan penerbitan jurnal ilmiah hasil kerja sama dengan Universitas Mercu Buana Jakarta. Hasil penelitian tersebutlah yang akhirnya dibuat menjadi minuman siap saji berupa teh.

"Hasil dari laboratorium di Riau itu sudah ada, jadi ada 30 Panelis yang memberikan pendapat dan hasilnya semua baik. Berdasarkan hal tersebut kami akan dorong produk ini agar ada kebijakan pemerintah sehingga menjadi produk unggulan kabupaten," terangnya.

Ia mengaku, percaya Mama-Mama Papua dengan jumlah total 22 anggota kelompok dan 15 non anggota akan mengembangkan produk teh manggrove ini setelah selama empat bulan didampingi. (Fachruddin Aji)