Teka-teki Pelaku Penembakan Warga di Pomako
Papua60detik – Kerusuhan yang terjadi di Kampung Pomako pada Minggu (7/3/2021) yang menyebabkan seorang warga berinisial AB mengalami luka tembak masih menyisakan teka-teki siapa pelaku sebenarnya.
Korban mengalami luka tembak dibagian rusuk kiri tembus belakang.
Ketua Lemasko, Gerry Okoare pun angkat bicara. Ia mengutuk oknum pelaku yang saat ini masih dalam penyelidikan kedua instansi itu.
“Saya kutuk mati. Tuhan ambil nyawa mereka, itu perbuatan tidak masuk akal,” ujarnya kepada awak media di bilangan Jalan Cenderawasih, Rabu (10/3/2021).
Ia lantas meminta Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Sigit Listyo mengusut tuntas kasus tersebut.
Gerry mengaku akan menyiapkan kuasa hukum untuk menaikkan kasus itu ke pengadilan
“Panglima TNI, Kapolri segera bertanggung jawab atas penembakan warga di Pomako. Sudah banyak (orang Papua) yang mati ditembak berulang kali. Aparat itu mengayomi atau membunuh? Yang menembak itu kirim saja ke Sugapa (Salah satu daerah konflik kontak tembak). Kapolda dan Pangdam juga harus bertanggung jawab,” tegasnya.
“Siapa yang tembak kalau tidak ada yang mengaku? Saya minta ini segera diusut sebelum Pomako saya tutup aksesnya. Kita tidak main-main. Segera tangkap dan masukkan ke penjara,” ancam Gerry.
Akibat kejadian itu, warga sempat memalang jalan Poros Pomako sejak Minggu malam hingga Senin (8/3/2021).
Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob, Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Yoga Cahya Prasetya dan Danyonif Raider 754 ENK/20/3/Kostrad Mayor Inf Doni Firmansyah saat bernegosiasi dengan warga mengakui sebanyak 10 anggota TNI telah diperiksa.
Di kesempatan berbeda, Selasa (9/3/2021), Doni Firmansyah berjanji tidak akan melindungi anggotanya jika terbukti bersalah.
Ia memperlihatkan sebuah bukti rekaman video yang menunjukkan hanya satu prajurit yang membawa senjata apai, yang lain hanya memegang tongkat.
“Kami meminta masyarakat di Kabupaten Mimika tetap tenang dan mempercayakan kasus ini ditangani oleh pimpinan TNI dan Polri di Kabupaten Mimika. Saat ini proses penyelidikan dan penyidikan sedang berlangsung dan pasti akan diselidiki hingga kasus ini terungkap secara terang benderang,” kata Doni kepada awak media di Mako Yonif 754 ENK/20/3/Kostrad.
Doni mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara, senpi milik anggotanya itu masih dalam keadaan bersih dengan jumlah amunisi yang masih lengkap.
Ia menambahkan, sampat saat ini amunisi yang melukai korban AB belum ditemukan. Bahkan pada saat dilakukan penanganan medis di RSUD Mimika, katanya, tidak ditemukan amunisi yang bersarang dalam tubuh korban. Hal itu lalu menjadi kendala dalam pengungkapan kasus tersebut
“Saya masih yakin kepada prajurit saya tidak melakukan penembakan karena setelah dilakukan pengecekan jumlah amunisi masih lengkap. Kami masih berusaha menemukan proyektil peluru sebagai bukti otentik karena di lokasi bukan hanya kami yang memegang senpi,” katanya.
Doni menduga ada indikasi kesalahan prosedur anggotanya yang datang ke lokasi kejadian malam itu. Namun untuk kasus penembakan masih menunggu proses penyelidikan yang dilakukan secara internal bersama Kodim 1710 serta Subdenpom C XVII dan kepolisian.
“Saya menyesalkan kejadian ini dan saat ini masih dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan . Kita tunggu saja hasil seperti apa, namun jika terbukti anggota TNI yang melakukan penembakan maka pasti akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” pungkasnya
Sementara itu, Dansubdenpom XVII Cenderawasih Timika, Kapten Cpm Joko Hermawan mengaku saat ini masih mengumpulkan barang bukti serta saksi agar bisa memastikan siapa pelaku penembakan tersebut. Jika ditemukan bukti kuat, kasusnya baru naik ke tingkat penyidikan.
Penyelidikan dilakukan dengan menggali dari sumber-sumber yang berkaitan dengan yang dibutuhkan dengan berkordinasi Satreskrim Polres Mimika dan Kapolsek KP3.
“Kami belum bisa menyimpulkan. Karena untuk jenis peluru itu senjata kaliber 5,56 dan itu ada di kesatuan kepolisian dan juga ada di kesatuan TNI. Kita tetap menggunakan praduga tak bersalah, naum dalam menyampaikan data itu tentunya harus akurat. Intinya kami masih menggali,” ujarnya. (Salmawati Bakri)