5 Tahun Rezim OMTOB, Apa Saja Pencapaiannya?
Papua60detik - Pada 6 September kemarin rezim kepemimpinan pasangan Eltinus Omaleng - Johannes Rettob (OMTOB) di Kabupaten Mimika berakhir.
Sudah jadi pengetahuan umum, kepemimpinan pasangan ini penuh dinamika dan drama. Tapi lepas dari hal itu, kinerja dan pencapaian keduanya patut ditanyakan.
Bagi John Rettob, kepemimpinan OMTOB paling tidak sudah meletakkan dasar. RPJMD yang merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah dalam lima tahun menurutnya telah teriealisasi 65 persen.
John Rettob menyebutkan secara singkat tapi padat pencapaian OMTOB pada beberapa sektor.
Kesehatan
Mimika merupakan satu-satunya kabupaten di Indonesia yang mempunyai riset kesehatan dasar (Riskesdas) sendiri.
Riskesdas ini dikerjakan bersama PT Freeport Indonesia untuk mengukur beberapa variabel yang dapat menunjukkan derajat kesehatan warga Mimika. Variabel yang diukur di antaranya pengetahuan, perilaku, lingkungan, ketersediaan air bersih, penyakit berbasis lingkungan, akses pelayanan kesehatan, dan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat.
Penanganan malaria di Kabupaten Mimika telah memberikan sumbangsih penuruan malaria sebesar 30 persen di Indonesia dengan target eliminasi malaria pada tahun 2026.
“Di Kabupaten Mimika sendiri angka stunting cukup baik karena berada di angkah 14 persen dari target nasional 16 persen sedangkan untuk Papua Tengah Mimika terbaik,” kata John Rettob di kediamannya, Jalan Hasanudin, Minggu (8/9/2024).
Pendidikan
John menyebut data di akhir tahun 2023 Mimika masih kekurangan 400 hingga 500 guru, untuk tingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Berdasarkan data itu, ia telah meminta kuota penerimaan guru ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).
Smart City
Smart city merupakan dasar pengembangan dalam master plan menuju pelayanan efisien dan efektif. Bisa melalui aplikasi, program pun aturan-aturan. Dalam ekosistim kota cerdas, pelayanan publik semestinya berjalan lebih mudah, cepat, terbuka, pasti dan non diskriminatif.
Ekosistem pelayanan semacam ini bisa dilihat di beragam inovasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Mimika.
“Puji Tuhan aturan-aturan yang berkaitan dengan smart city untuk memperluas jaringan itu juga telah kita lakukan,” kata John Rertob.
Ekonomi
Di Kabupaten Mimika perkembangan ekonomi dipengaruhi oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dan saat ini UMKM di Mimika pun telah Go To Digital. Tercatat sudah 18 ribu UMKM di Mimika tercatat di aplikasi.
“Dengan UMKM ini maka pemberdayaan ekonomi kita tercatat secara nasional dia naik tiga persen karena UMKM,” kata John
Infrastruktur
Pembangun infrastruktur selama 5 tahun kepemimpinan OMTOB cukup pesat. Tak hanya di wilayah kota, menurut John Rettob di luar kota pun, seperti di pesisir dan pegunungan jalanya telah diaspal.
Dengan dana Anggaran Dana Desa (ADD) dalam 5 tahun lebih dari 1.500 rumah layak huni, 9 dermaga serta jalan antar kampung telah dibangun.
“Sedangkan di luar anggaran dana desa yang dibangun oleh pemerintah kabupaten hampir 2000 rumah layak huni dibangun,” sebutnya.
Di akhir masa jabatan OMTOB, sebanyak 8 ribu rumah di Kota Timika akan dialiri air bersih. Sedangkan di wilayah pesisir dan gunung telah dibangun sarana dan prasarana air bersih.
“Ada yang dari sumur bor ada juga air yang kita ubah dari air payau menjadi air bersih, itu di Atuka dan Kokonao,” katanya.
Keagamaan & Budaya
Masyarakat Mimika heterogen. Tugas pemerintah terus menjaga kebersamaan dan kerukunan.
“Puji Tuhan kita selama ini dua kali melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan baik MTQ dan Pesparawi di Tingkat Papua itu bisa terlaksana dengan baik,” kata John
Dalam periode OMTOB lah diperkenalkan salam khas warga Mimika, amolongo, nimao witimi, saipa. Hal ini sebagai satu bentuk pelestarian kearifan lokal atau budaya masyarakat Amungme-Kamoro.
Defisit Anggaran di Akhir Periode
John Rettob mengatakan terkait Nilai APBD Perubahan turun jadi Rp6,6 triliun dari APBD induk Rp7,5 Triliun. Rupanya dalam perjalanan pemerintahan, ada beberapa yang tidak terpenuhi, seperti pendapatan bagi hasil 2,5 persen dari PT Freeport Indonesia.
“Itu kita tidak bisa dapat maksimal karena ada aturan IUPK yang baru sehingga yang harusnya kita terima Rp1,8 triliun hanya bisa didapatkan Rp1,3 triliun,” jelas John.
Termasuk pendapatan dari Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dari PTFI juga tidak bisa dimaksimalkan Pemkab.
Mengatasi defisit pendapatan itu, Pemkab melakukan refocusing kegiatan yang tidak prioritas. Salah satunya adalah pembangunan Gereja Kingmi di Mile 32 sekitar Rp100 miliar, yang lain seperti pekerjaan multiyears.
“Dengan adanya refocusing dan berusaha cari uang dimana-mana akhirnya kita bisa selesaikan yang tersisa hanya sekitar 100 miliar tapi itupun samar-samar sehingga di akhir tahun tidak akan ada (utang),” katanya
“Saya sampaikan bahwa ketika jabatan saya berakhir, saya tidak mau meninggalkan utang, dan kita sudah sepakati tinggal kunci di APBDP, nanti PJ Bupati yang akan eksekusi,” lanjutnya.
John Rettob menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat sehingga pihaknya telah menyelesaikan tugas kepemimpinan selama lima tahun meskipun banyak tantangan. Sekaligus ia meminta maaf jika ada yang tidak berkenaan selama OMTOB memimpin.
“Saya berharap ke depan siapapun bupati yang terpilih lima tahun ke depan menata ulang kembali birokrasi yang sudah disusun dengan susah payah ini, dan jangan terjadi lagi kesulitan dalam birokrasi karena birokrasi adalah kunci dari pelayanan masyarakat,” tutupnya. (Faris)