Ini Alasan Disnakeswan Larang Kirim Telur ke Luar Daerah
Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan Disnakeswan Mimika, Agustinus Mandang. Foto; Martha/ Papua60detik
Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan Disnakeswan Mimika, Agustinus Mandang. Foto; Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Mimika menerbitkan Surat Edaran (SE) yang melarang sementara waktu pengiriman telur ke luar daerah. 

Aturan itu berlaku sejak tanggal 27 Januari lalu hingga 10 Februari nanti atau selama dua pekan. 

SE tersebut juga sudah ditembuskan kepada Badan Karantina Papua Tengah, Bandara Mozes Kilangin dan Syahbandar di Pomako agar menolak pengiriman telur ke luar daerah. 

Kabupaten Mimika sejak beberapa tahun lalu sudah swasembada telur. Bahkan telur peternak lokal Mimika sudah dikirim ke kabupaten tetangga seperti Yahukimo, Asmat, Wamena, Kabupaten Puncak dan Mappi.

Kepala Bidang Bina Usaha Peternakan, Agustinus Mandang menjelaskan, terbitnya SE tersebut bukan karena kelangkaan telur, melainkan untuk menekan harga telur dan mengantisipasi kelangkaan. Katanya, banyak oknum pengusaha yang memilih menjual ke luar daerah karena harganya lebih menggiurkan. 

"Sebenarnya telur itu tidak mengalami kelangkaan di Timika. Saya tidak tahu, apakah para pedagang ini membeli banyak lalu menyimpannya untuk mengirimnya ke luar daerah. Saya tidak tahu persis, tapi dari rapat kami bersama bahwa telur di Timika ini masih mencukupi," ujar Agustinus, Selasa (04/02/2025). 

Beberapa bulan terakhir, telur menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kabupaten Mimika. Padahal produksi telur jauh melampaui kebutuhan telur di Mimika. 

Setelah diselidiki di lapangan, baru-baru ini ada beberapa pedagang ditemukan menjual telur mencapai Rp85 ribu satu rak. Padahal harga normal telur dari kandang atau peternaknya hanya Rp65 ribu- Rp68 ribu satu rak. Harga eceran Rp70 ribu-Rp75 ribu.

Kata Agustinus, kadang pedagang mengambil telur dari kandang dan menjualnya ke luar Mimika dengan harga yang lebih tinggi. Sebagian lagi tetap menjualnya di Timika tapi jauh lebih mahal.

"Kita tidak mau memberatkan harga ini kepada mamasyarak. Kita mau semua itu terjangkau oleh masyarakat. Jadi kalau pedagang ambil ke peternak ya kira-kira lah untungnya. Jangan ambil untung yang besar dan memberatkan konsumen. Itu tidak boleh," tegas Agustinus.

Selain SE, Disnakeswan membuka posko-posko penjulaan telur dengan harga yang lebih terjangkau. Ada 7 posko yang dibuka yaitu Toko Hoky di SP3, dua titik di Jalan Budi Utomo, Gang Pepaya, Toko Desi di Koperapoka, Toko Mitra Unggas di Budi Utomo Ujung. 

"Kami berharap masyarakat yang membutuhkan kebutuhan telur bisa membeli di pos yang sudah kami buka. Itu untuk mengantisipasi harga yang dimainkan oleh pedagang. Jangan sampai pedagang harga jualnya tinggi," terangnya. (Martha)