Mengenal Program PASTI-Papua, Kolaborasi PTFI, Kemenkes Dan USAID
Papua60detik - Program Partnership to Accelerate Stunting Reduction in Indonesia (PASTI)-Papua resmi diluncurkan, Jumat (13/9/2024).
Lantas apa sih PASTI-Papua itu ?
PASTI-Papua merupakan program kemitraan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang didukung oleh United States Agency for International Development (USAID) dan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI). Tujuannya berkontribusi pada percepatan penurunan stunting dan peningkatan status gizi di kabupaten prioritas seperti Kabupaten Mimika, Asmat, dan Nabire hingga tahun 2026.
Direktur USAID Indonesia Jeff Cohen mengatakan pada tahun 2023 bersama Wahana Visi Indonesia meluncurkan Program PASTI di empat provinsi di Indonesia. Dan hari ini di Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan.
National Director Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora mengatakan PASTI-Papua hadir untuk mendukung tercapainya terget stunting nasional. Program ini akan berlangsung hingga 31 Oktober 2027.
“Program ini akan meningkatkan kualitas praktik kesehatan gizi berbasis masyarakat melalui tiga pendekatan. Pertama, intervensi komunikasi perubahan perilaku sosial yang melibatkan tokoh masyarakat,” katanya
Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan Puskesmas melalui penguatan pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi, komprehensif dan preventif bagi ibu, anak dan remaja
Ketiga, meningkatkan kapasitas kelembagaan dan tata kelola kolaboratif di antara pemangku kepentingan dalam mewujudkan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN-PASTI) di tingkat sub-nasional sampai pada penguatan mitra lokal.
Dalam implementasinya, PASTI-Papua akan dijalankan oleh Wahana Visi Indonesia.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Papua Tengah mencatat angka prevalensi stunting sebesar 39,4 persen dengan 46.128 kasus, sementara Papua Selatan mencatat prevalensi sebesar 25 persen dengan 33.304 kasus. Angka ini jauh dari target nasional Indonesia untuk menurunkan prevalensi stunting hingga 14 persen pada tahun 2024.
Stunting sendiri dapat berdampak serius pada perkembangan otak anak, menurunkan kemampuan kognitif, dan berpengaruh pada produktivitas kerja di masa depan.
Percepatan penurunan stunting di Papua menghadapi berbagai tantangan, seperti: Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan dan pemantauan pertumbuhan anak di Posyandu, keterbatasan akses terhadap pangan lokal yang bergizi dan minimnya pemanfaatan pelayanan kesehatan primer yang berkualitas. (Faris)