24 April 2022, Tonggak Sejarah Kembalinya Mimika Wee
Papua60detik - Minggu (24/4/2022) pagi, warga dari berbagai wilayah di pesisir Mimika memadati Pelabuhan Atapo, Kokonao Distrik Mimika Barat.
22 April merupakan puncak acara rekonsiliasi dan hari pengembalian penyebutan Mimika Wee yang sebelumnya disebut Kamoro.
Baca Juga: Yayasan Amungsa Cares Papua Jalani Visitasi Akreditasi LKS, Perkuat Mutu Pelayanan Sosial
Penari, penabuh tifa, para tetua adat, kepala suku bersama warga lain beserta anak cucu perintis (ACP) berkumpul mengikuti rekonsiliasi dan jadi saksi kembalinya nama Mimika Wee.
Misa rekonsiliasi dipimpin Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo. Prosesi adat diserahkan ke Kepala Suku Mimika. Ketua Panitia, Dominikus Mitoro yang mengumumkan penggunaan kembali sebutan Mimika Wee mengganti Kamoro yang diikuti kata setuju mereka yang hadir.
Dua tungku api dinyalakan. Satu mewakili pembakaran dosa, tungku satunya mewakili nyala harapan. Satu-satu warga menuliskan daftar kesalahan dan harapan lalu menaruhnya di tungku api.
Abu dari tungku pembakaran dosa diarak ke pelabuhan lalu dihanyutkan. Prosesi ini menandai Mimika Wee telah melepaskan kesalahan dan dosa masa lalu untuk memulai hari-hari baru.
Abu dari tungku harapan dicampurkan ke air suci dan garam yang sudah diberkati lalu diusapkan ke wajah dan kepala mereka yang hadir.
Semua prosesi ini berjalan beriringan, adat dan agama. Puncaknya adalah pengarakan dan penancapan salib yang menghadap ke Muara Kokonao.
Rekonsiliasi sebagai sakramen pertobatan dan pemulihan merupakan bagian dari gerakan tungku api kehidupan yang digagas almarhum Uskup John Philip Saklil.
Pastor Marthen Kuayo menjelaskan, rekonsiliasi hari itu baru awal, masih pembukaannya. Kesadaran dan pemahaman tentang pemulihan menuju kebangkitan Mimika Wee akan dibicarakan di taparu masing-masing.
Dalam sejarahnya, sejak dulu masyarakat yang mendiami pesisir di sekitar sungai wilayah Mimika memang disebut atau dipanggil Mimika Wee. Perubahan ke Kamoro terjadi di kisaran 1996. Perubahan sebutan itu terkait erat dengan gelontoran dana 1 persen PT Freeport Indonesia.
Bagi Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, rekonsiliasi dan kembalinya nama Mimika Wee merupakan momen kebangkitan. Setelah sekian lama tertinggal saatnya Mimika Wee bangkit jadi tuan di atas negerinya.
Ia menceritakan, generasi terdidik pertama Mimika Wee hasil didikan para perintis banyak dikirim mengajar hampir di seluruh wilayah Papua. Kiprah para guru Mimika Wee ini masih bisa dilacak dari keturunan-keturunannya. Itu belum termasuk Mimika Wee yang bisa menduduki jabatan strategis di pemerintahan saat itu.
Tapi apa yang terjadi sekarang, dari 18 distrik di Kabupaten Mimika, hanya dua Kadistrik dari Mimika Wee. Dari seluruh OPD, hanya satu yang berasal dari Mimika Wee.
Sebab itu John Rettob menekankan, kebangkitan bisa dimulai dengan memperhatikan aspek pendidikan generasi Mimika Wee. Pengalamannya turun langsung ke kampung-kampung pesisir, aspek pendidikan memang masih banyak masalah.
"Saya minta maaf atas nama pemerintah kabupaten atas kurangnya perhatian kepada anak-anak Mimika Wee. Kita akan buat dan mulai perhatikan orang Mimika Wee, dan kita harus perhatikan daerah ini. Momen ini sebagai momen kebangkitan kita dan masyarakat harus memberikan dukungan," katanya.
Ketua Paguyuban Anak Cucu Perintis (ACP), Piet Yanwarin pada kesempatan sama menegaskan komitmennya bersama Mimika Wee bangkit memajukan Mimika. Semangat para perintis masih terjaga sampai sekarang di anak cucunya. (Burhan)