Angka Kematian Ibu di Mimika Turun Signifikan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra. Foto: Fachruddin Aji/ Papua60detik
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra. Foto: Fachruddin Aji/ Papua60detik

Papua60detik - Angka kematian ibu di Kabupaten Mimika, mengalami penurunan dibandingkan pada 2020 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Reynold Ubra menyebut, pada tahun 2021 angka kematian ibu 79 per100 ribu kelahiran hidup. 

Angkanya turun signifikan jika dibanding  tahun sebelumnya sebesar 400 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara standar nasional tidak boleh lebih dari 305 per 100 ribu kelahiran hidup

"Ini berita bagus. Nah tentu saja angka ini kita coba untuk tingkatkan dengan mengenjot pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui tenaga-tenaga kesehatan terutama bidan dan dokter yang ada di Puskesmas," kata Reynold, Rabu (23/2/2022).

Turunnya angka itu bagi Reynold, merupakan kerja keras dan kerja sama semua pihak terkait.

Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan juga tentu akan berdampak pada pencatatan laporan angka kematian ibu dan anak lebih akurat dan valid.

"Artinya angka kematian ibu menurun, demikian pula angka kematian neonatus juga bayi dan balita," imbuhnya.

Secara umum, ada empat faktor yang mempertinggi risiko kematian ibu, disebut 4T. Terlalu muda hamil, terlalu tua hamil, terlalu dekat hamil, terlalui banyak hamil.

Tapi Mimika, infeksi malaria, TB serta masalah perilaku ibu hamil, tekanan darah tinggi dan jarang melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin menambah faktor risiko terjadinya kematian pada ibu dan janin.

"Tapi secara keseluruhan 4T masih mempengaruhi angka kematian ibu dan anak, empat faktor resiko ini masih di monopoli oleh ibu-ibu hamil, terutama yang ada di wilayah-wilayah daerah terpencil," ucapnya.

Menurutnya, hamil di usia kurang dari 18 tahun, kemudian jarak kehamilan saat ini dengan sebelumnya kurang dari 2 tahun, hamil di atas 35 tahun, kemudian jumlah anak itu sudah lebih dari 3 anak merupakan hal yang harus diperhatikan untuk menurunkan kematian ibu dan anak yang masih terjadi di wilayah terpencil.

"Bahkan rata-rata satu ibu di wilayah pesisir memiliki anak rata rata 6 orang itu faktor risiko dan jaraknya berdekatan. Ini berbeda dengan yang ada di wilayah pegunungan kalau di pegunungan rata-rata jarak kehamilan itu antara anak sebelumnya dan sekarang itu di atas dua tahun, dan jumlah anak pun tidak lebih dari rata-rata tiga," jelasnya.

Rey mengimbau agar ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kehamilan kemudian menjaga pola makan menjaga gaya hidup, gizi seimbang dan istirahat yang cukup. Hal tersebut penting bagi kesehatan ibu hamil dan janin. (Fachruddin Aji)