Antisipasi Bahaya ASF, Disnak dan Keswan Bakal Tarik Semua Produk Olahan Babi Bulan Ini
Kabid Keswan Disnak dan Keswan Mimika, drh. Bakti Erna Surfani. Foto: Anti Patabang/Papua60detik
Kabid Keswan Disnak dan Keswan Mimika, drh. Bakti Erna Surfani. Foto: Anti Patabang/Papua60detik

Papua60detik- Penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang kini sudah mulai masuk di Indoensia seperti di Bali, Sumatera dan seluruh kepulauan NTT ternyata sangat berpotensi membuat punah  babi.

Menyikapi hal ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak dan Keswan) Kabupaten Mimika mulai berkoordinasi dengan semua pemilik toko di untuk menghentikan sementara pengiriman produk olahan babi ke Timka.

“Penyakit ASF ini mampu bertahan hidup dalam makanan yang berbentuk kaleng dan semua olahan makanan yang mengandung daging babi juga dilarang masuk. Termasuk dendeng, bakso dan sosis. Intinya semua produk olahan babi,” Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnak dan Keswan Mimika, drh Bakti Erna Surfani di Hotel Horison Diana, Jumat (11/12/2020)

Ia mengatakan saat ini pihaknya masih memberikan kesempatana kepada semua pengusaha untuk menghabiskan stok. Namun jika dalam pertengahan bulan ini stok tersebut belum juga habis, maka produk olahan tersebut tidak boleh dijual lagi.

Penyakit yang disebabkan virus DNA dengan untai ganda dari genus Asfivirus dan famili Asfarviridae ini memang tidak menular ke manusia, tetapi  menurutnya, mengancam populasi babi serta bisa menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar.

“Memang tidak menular ke manusia tetapi sifatnya strategis secara ekonomi. Mematikan babi  hingga 100 persen. Sehingga pasti peternak-peternak kita akan mengalami kerugian banyak. Apalagi kita punya tipikal peternak di Papua itukan babi,” katanya

 Ia menjelaskan penyakit ini hampir sama dengan hokolera yang disebabkan virus hog cholera. Sama-sama mematikan babi, namun penyakit hokolera sudah memiliki vaksin, sedangkan ASF belum.

“Hokolera sudah pernah terjadi di Timika pada tahun 2004. Tetapi sekarang ini bisa dikendalikan dengan tidak memasukkan babi dan daging  segar dari luar dalam rangka untuk pengendalian. Pengendaliannya yah melarang babi dan daging masuk plus vaksinasi. Tapi ASF inikan tidak ada vaksinnya,” tutupnya. (Anti Patabang)