Buntut Rolling 5 Desember, Hengky Amisim Putuskan Mundur dari Jabatannya
Hengky Amisim. Foto: Burhan Papua60detik
Hengky Amisim. Foto: Burhan Papua60detik

Papua60detik - Buntut rolling pejabat 5 Desember lalu, pejabat di Pemkab Mimika, Hengky Amisim memutuskan mundur dari jabatannya. 

Pada rolling jabatan jelang berakhirnya kepemimpinan Bupati Eltinus Omaleng itu, nama Hengky disebut menduduki jabatan Kabag Organisasi dan Tata Laksana (Ortal), meski belum mendapat SK. Sememtara Kabag Ortal sebelumnya disebut menjabat Plt Kepala BKPSDM.

Belakangan, Hengky mendapat informasi jabatannya sebagai Kabag Tata Pemerintahan (Tapem) digantikan oleh orang yang namanya tak dibacakan atau disebutkan saat pelantikan di 5 Desember.

"Kami sebagai ASN tahu diri, kami siap ditempatkan di mana saja sesuai sumpah janji. Cuma dengan cara yang benar. Kami siap. Tetapi yang hari ini yang saya lihat, Dari lampiran keputusan Bupati itu (pejabat pengganti Kabag Tapem) tidak pernah disebutkan di rolling pejabat pada 5 Desember. Sehingga hari ini juga saya nyatakan mengundurkan diri dari jabatan manapun. Di Ortal juga," ungkap Hengky kepada wartawan, Selasa (19/12/2023).

Ia mengingatkan, ASN diatur oleh seperangkat aturan. Apalagi BKN sudah menjadwalkan permintaan klarifikasi terkait rolling jabatan itu pada 22 Desember nanti. 

Menurutnya, secara aturan, mereka yang menduduki jabatan hasil pelantikan di 5 Desember berpeluang diblacklist oleh BKN dan bakal berpengaruh pada hak-haknya. Hengky menyebutnya, dampak permanen.

"Ini juga informasi bagi teman-teman yang menjalani tugas baru di jabatan barunya. Pikir baik-baik baru melaksanakan tugas. Sebagai ASN, belajar aturan tentang hak dan kewajiban. Kita yang mengerti birokrasi jangan paksa diri, nanti korban sendiri. Saya lebih baik mengundurkan diri. Lebih baik jadi staf biasa saja di sini," kata Hengky.

Yang ia sayangkan, orang yang ditunjuk menggantinya sebagai Kabag Tapem bukan pegawai Amungme atau Kamoro. Padahal, tugas di Tapem cukup berat, yaitu menyelesaikan soal tapal batas kabupaten. Tugas ini membutuhkan putra daerah yang mengerti situasi dan sejarah.

"Yang gantikan saya juga tidak pernah komunikasi. Sebagai orang birokrasi harusnya koordinasi dan komunikasi," kata Hengky. (Burhan)