Curah Hujan Tinggi, Petani di Timika Merugi
layan sayur Wahyu di SP4. Foto: Eka/Papua60detik
layan sayur Wahyu di SP4. Foto: Eka/Papua60detik

Papua60detik - Akibat tingginya curah hujan, petani di Timika banyak yang rugi. Sayuran mereka busuk bahkan sebagian ada yang terendam banjir. 

Seperti dialami petani sayur kol dan cabai rawit di SP 4 Wonosari Jaya, Wahyu. Ia mengeluhkan hasil panennya yang merugi dalam dua kali panen.

Hasil panen kolnya rugi karena buahnya yang tidak tumbuh sempurna akibat terlalu banyak terkena air hujan dan diserang hama. 

"Sudah dua kali panenan ini sulit karena cuaca, terlalu tinggi curah hujan, banyak penyakit juga," ujar Wahyu, Jumat (8/9/2023). 

Kata Wahyu, dua kali panenan yang dihasilkan itu dia merasakan kerugian yang cukup besar itu belum termasuk untuk pestisida dan tenaga perawatan. 

"Waktu panen itu dua petak hancur, Kol rugi, cabai juga rugi. Apalagi cabai biayanya tinggi juga. Yang bikin hancur itu kiriman sudah. Jadi gak bisa stabil," kata Wahyu. 

Sebelum beralih tanam sayur kol, sebelumnya dia menanam cabai rawit. Seiring berjalannya waktu harga cabai dari petani semakin murah karena kualitasnya buruk akibat cuaca. 

"Cabe kemarin saya rugi 25 juta dari dua gulung itu," ungkapnya. 

Setelah mengalami kerugian, kini Wahyu hanya fokus menanam kol kembali. Meski harga dari petani belum sesuai standar, ia tetap memilih tanam kol karena dirasa paling mudah dan tidak perlu perawatan yang terlalu ribet. 

"Kol dari petani sekarang berkisar Rp8 sampai Rp10 ribu, itu harga murah, karena biasanya harga standar itu Rp15 sampai Rp18 dari petani," jelasnya. 

Sementara itu, Budi petani daun bawang mengatakan, dampak curah hujan tinggi sangat terasa. Sebagian daun bawang miliknya pun banyak yang busuk. Bahkan sengaja dibiarkan busuk karena harganya murah juga kualitas tanamannya pun rusak. 

"Saya biarkan busuk itu karena di panen juga gak bisa, kualitasnya jelek, saya biarkan seperti itu nanti buat bibit baru lagi," pungkasnya. (Eka)