CV Seafood Sejahtera Ekspor Perdana 42 Ton Ikan Bawal Hitam ke Malaysia
Sebanyak 42 ton ikan bawal hitam milik CV Seafood Sejahtera Papua (SSP) resmi diekspor perdana ke Malaysia melalui Pelabuhan Perikanan Pomako. foto: Istimewa
Sebanyak 42 ton ikan bawal hitam milik CV Seafood Sejahtera Papua (SSP) resmi diekspor perdana ke Malaysia melalui Pelabuhan Perikanan Pomako. foto: Istimewa

Papua60detik - Sebanyak 42 ton ikan bawal hitam milik CV Seafood Sejahtera Papua (SSP) resmi diekspor perdana ke Malaysia melalui Pelabuhan Perikanan Pomako, Kabupaten Mimika setelah disertifikasi oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah, Selasa (30/06/2026). 

Nilai ekspor komoditas tersebut diperkirakan mencapai Rp756 juta dan menjadi tonggak penting dalam pembukaan akses pasar internasional bagi hasil perikanan asal Papua Tengah.

Kepala Karantina Papua Tengah, Anton Panji Mahendra, menegaskan bahwa Barantin melalui Karantina Papua Tengah terus memperkuat kolaborasi dan berkomitmen memastikan setiap tahapan ekspor berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan dan keamanan komoditas, verifikasi persyaratan karantina, hingga pendampingan dalam proses penerbitan Health Certificate sebagai dokumen yang menjadi persyaratan negara tujuan ekspor. 

"Kami berkomitmen untuk memastikan seluruh tahapan ekspor berjalan sesuai ketentuan, mulai dari pemeriksaan kesehatan dan keamanan komoditas, verifikasi persyaratan karantina, hingga pendampingan proses penerbitan Health Certificate sebagai dokumen yang dipersyaratkan oleh negara tujuan," ujar Anton Panji melalui siaran pers tanggal 30 Juni 2026.

Anton berharap ekspor perdana ini dapat membuka pasar yang lebih luas bagi komoditas perikanan Papua Tengah. Ia juga menegaskan komitmen Barantin dalam mendorong proses ekspor yang lebih efisien melalui layanan Permohonan Tindakan Karantina (PTK) Online pada platform BEST TRUST. 

Melalui sistem tersebut, pelaku usaha dapat mengajukan pemeriksaan karantina, memantau proses sertifikasi secara real time, hingga memperoleh Health Certificate (HC) elektronik dengan lebih cepat. 

Menurut Anton, digitalisasi layanan ini diharapkan memangkas birokrasi, mempercepat waktu tunggu di pelabuhan, menekan biaya logistik, serta memperkuat sektor perikanan sebagai penggerak perekonomian Papua Tengah.

"Kami hadir bukan untuk menghambat, melainkan menjadi karpet merah bagi para UMKM dan pelaku usaha, khususnya eksportir perikanan. Dengan sertifikasi karantina yang akurat dan berbasis pelacakan digital, kita menjaga reputasi dagang komoditas Indonesia di mata dunia sekaligus menjamin keberlanjutan ekspor pada masa mendatang," tegasnya. 

Ia menambahkan, Karantina Papua Tengah akan terus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan kesehatan ikan sesuai ketentuan negara tujuan ekspor, sekaligus memperkuat koordinasi dengan instansi terkait guna meningkatkan volume ekspor dan menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap komoditas asal Papua Tengah.

Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa hadir pada peluncuran ekspor perdana tersebut. Dalam sambutannya, Gubernur mengapresiasi Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Papua Tengah, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta seluruh instansi yang telah bersinergi mewujudkan ekspor perdana komoditas perikanan dari Papua Tengah melalui Pelabuhan Perikanan Pomako. 

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi pemicu meningkatnya investasi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mendorong semakin banyak komoditas unggulan Papua Tengah menembus pasar ekspor.

"Keberhasilan ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan sektor kelautan dan perikanan Papua Tengah serta menunjukkan bahwa komoditas unggulan daerah memiliki kualitas yang mampu memenuhi standar pasar internasional," pungkasnya. (Martha)