Dekatkan Layanan, Dinkes Mimika Latih Petugas Pustu Tangani TBC
Capt:Dinas Kesehatan Mimika melaksanakan workshop TB DOTS untuk petugas puskesmas pembantu (Pustu), foto: Martha/ Papua60detik
Capt:Dinas Kesehatan Mimika melaksanakan workshop TB DOTS untuk petugas puskesmas pembantu (Pustu), foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Upaya memperkuat layanan TBC hingga ke tingkat kampung, Dinas Kesehatan Mimika melaksanakan workshop TB DOTS untuk petugas puskesmas pembantu (Pustu), Selasa (02/06/2026).

Melalui pelatihan ini, para petugas Pustu dibekali kemampuan penanganan TBC secara menyeluruh, mulai dari skrining, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, pemantauan pengobatan, investigasi kontak, terapi pencegahan TBC, hingga pencatatan dan pelaporan kasus.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin mengatakan selama ini layanan TBC lebih banyak dilakukan oleh rumah sakit dan Puskesmas induk, sementara peran Pustu masih relatif terbatas. Padahal, banyak pasien TBC yang tinggal di kampung dan jauh dari Puskesmas Induk. 

"Kita sekarang melaksanakan ini dengan harapan teman-teman Pustu ini punya kontribusi yang besar untuk program TBC, jadi mereka bisa skrining di kampungnya, memulai pengobatan hingga pemantauan," ujar Kamaludin saat diwawancarai. 

Pelatihan tenaga Pustu juga bertujuan mendekatkan layanan kepada masyarakat. Pasien tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengambil obat.

Kamaludin mencontohkan pasien TBC yang tinggal di Nawaripi tidak perlu mengambil obat ke Puskesmas Wania dengan biaya transportasi tambahan. Demikian juga dengan masyarakat di daerah terpencil lainnya, tidak harus mengeluarkan biaya lebih banyak lagi ke Puskesmas induk.

"Kalau setelah kita latih nanti, maka pasien yang ada di Nawaripi itu tidak perlu lagi ke Wania, kecuali ada komplikasi yang harus dikonsulkan ke dokter. Kalau hanya melanjutkan pengobatannya, dia bisa minta obatnya di Pustu, sama seperti teman-teman di pantai nanti," terangnya. 

Ia menegasakan peran Pustu perlu dioptimalkan, karena kendala yang dialami selama ini adalah jarak pasien ke kota terlalu jauh. Kemudian lamanya masa pengobatan membuat pasien menghentikan terapi sebelum waktunya.

Berdasarkan data yang dicatat Dinkes Mimika jumlah pasien TBC yang menjalani pengobatan sepanjang tahun 2025 mencapai 2.407 orang. Sementara untuk tahun 2024 angka kesembuhan tercatat 76 persen, masih di bawah target nasional yaitu 90 persen.

Pada tahun 2026, bulan Januari hingga Mei, Dinkes mencatat 982 pasien TBC menjalani pengobatan. Namun, Kamaludin mengatakan petugas tetap melakukan pemantauan terhadap pasien yang memulai pengobatan pada tahun 2025 hingga tuntas nanti. 

"Kita berharap nanti setelah Pustu ini dilatih, selain menemukan pasien, mereka juga bisa meningkatkan cakupan dalam hal menyembuhkan pasien. Sehingga yang tadi misalnya masalah jarak jauh bisa diatasi," pungkasnya. (Martha)